Reli Saham Bikin Kaya, tapi Picu Kesenjangan

  • 01 Jul 2026 04:46 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Pasar saham Amerika Serikat tengah mencatat penguatan luar biasa, namun di balik gemerlap angka-angka itu tersimpan ironi besar: kemakmuran hanya dinikmati segelintir orang, sementara mayoritas rakyat justru semakin tertinggal.

Fenomena ini menjadi penopang sekaligus ancaman bagi perekonomian Negeri Paman Sam. Di satu sisi, belanja masyarakat kelas atas berhasil menjaga roda ekonomi tetap berputar di tengah tekanan tarif dagang, inflasi, dan konflik global. Di sisi lain, kesenjangan kekayaan antara kelompok kaya dan miskin justru kian melebar, mengubur impian banyak warga pekerja keras untuk mencapai kesejahteraan.

Berdasarkan laporan bulanan Bank of America Institute, masyarakat Amerika dari berbagai kalangan tercatat membelanjakan uang lebih banyak tahun ini dibanding 2025, meski tingkat kepercayaan konsumen berada di titik nyaris terendah. Namun, kontribusi terbesar datang dari kelompok berpenghasilan tinggi. Data Bank Sentral Dallas menunjukkan, 20 persen orang terkaya menyumbang 57 persen dari total belanja konsumen di Amerika Serikat.

Kepemilikan aset menjadi salah satu faktor penentu. Kelompok kaya lebih banyak memiliki rumah dan mendapat keuntungan besar dari kenaikan harga properti, terutama bagi mereka yang membeli atau melakukan refinancing dengan suku bunga di bawah 3 persen saat pandemi. Data Bank Sentral New York mengungkap, 20 persen orang terkaya menguasai lebih dari separuh total nilai properti perumahan di Amerika Serikat, sementara 20 persen kelompok termiskin hanya memiliki 3 persen dari total nilai tersebut.

Faktor lain yang memperlebar jurang ini adalah investasi di pasar saham. Berdasarkan data Distributional Financial Accounts milik Bank Sentral AS, kelompok 20 persen teratas menguasai 87 persen kekayaan yang dihasilkan dari kepemilikan saham individu.

Indeks S&P 500 sendiri mencatat imbal hasil total sebesar 22 persen dalam setahun terakhir, 76 persen sejak 2023, dan melonjak hingga 327 persen dalam satu dekade terakhir. Kenaikan tajam ini mendorong para pemegang saham untuk membelanjakan kekayaannya secara lebih leluasa.

Kepala Ekonom Oxford Economics, Michael Pearce, menyebut kenaikan harga saham menjadi pendorong utama belanja barang dan jasa non-pokok dari kalangan rumah tangga tua dan kaya, yang menyumbang lebih dari separuh total belanja di kategori tersebut.

Karena kekayaan pasar terkonsentrasi pada kelompok tertentu, dampaknya pun ikut terkonsentrasi. Kepala Ekonom RSM US, Joe Brusuelas, memperkirakan tiga perempat belanja yang dihasilkan dari reli pasar saham mengalir ke kelompok 20 persen teratas. Dalam setahun terakhir, pasar saham diperkirakan menghasilkan tambahan belanja senilai 53 miliar dolar AS, setara sekitar seperlima dari pertumbuhan produk domestik bruto AS pada kuartal lalu.

Brusuelas mengingatkan, jika perekonomian konsumen terlalu bergantung pada pasar saham, maka kesenjangan struktural justru akan semakin dalam, bukan berkurang.

Kondisi ini turut memicu ketidakpuasan di kalangan masyarakat menengah ke bawah yang merasa sistem ekonomi semakin tidak adil. Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, Heather Long, menyebut fenomena ini sebagai bentuk ekonomi berpola K, di mana sebagian kelompok melesat naik sementara sebagian lainnya justru tertinggal. Menurutnya, risiko terbesar muncul ketika dua pola K itu terjadi bersamaan, baik di pasar maupun di struktur ekonomi.

Sepertiga nilai S&P 500 saat ini disumbang oleh sektor teknologi, dengan hampir seperlima dari total nilai pasar berasal dari saham perusahaan chip semikonduktor. Meski belum ada tanda-tanda gelembung seperti era dot-com, para ekonom mengingatkan bahwa jika reli pasar saham berhenti, dorongan belanja dari kelompok atas juga ikut melemah, dan berpotensi memicu resesi.

Brusuelas menegaskan, jika terjadi guncangan besar yang menyebabkan penurunan tajam di pasar saham, hal itu dapat membuka jalan bagi kontraksi ekonomi yang serius.

Pasar saham memang bukan representasi utuh dari perekonomian, namun pengaruhnya kini jauh lebih besar dari biasanya, baik dalam mendorong pertumbuhan maupun memperdalam ketimpangan sosial di Amerika Serikat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....