OPEC Melemah, Apa Dampaknya ke Harga BBM?
- 30 Apr 2026 16:21 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Organisasi negara-negara pengekspor minyak atau OPEC akan kehilangan salah satu anggota terbesarnya. Kepergian Uni Emirat Arab (UEA) disebut dapat melemahkan pengaruh kartel minyak dunia tersebut terhadap pasar global.
UEA merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga OPEC setelah Arab Saudi dan Irak. Dengan hengkangnya UEA dari OPEC, negara itu dapat memproduksi lebih banyak minyak. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menurunkan harga minyak dan gas bumi.
Namun, jika Anda berharap harga BBM segera turun, Anda mungkin akan kecewa. Pasalnya, harga minyak mentah acuan global Brent saat ini berada di level tertinggi dalam beberapa pekan, sekitar 117 dolar AS per barel.
Para analis menyebut, dampak kepergian UEA terhadap harga minyak akan terbatas selama Selat Hormuz masih ditutup. Saat ini, penutupan tersebut menghentikan pasokan sekitar 10-12 juta barel minyak per hari dari pasar global.
UEA disebut-sebut sudah lama ingin memompa lebih banyak minyak. Negara itu telah berinvestasi besar-besaran untuk memperluas infrastruktur produksinya dalam beberapa tahun terakhir.
Selama ini, OPEC membatasi kemampuan UEA untuk berproduksi bebas karena organisasi tersebut memberlakukan kuota produksi kepada para anggotanya. Kuota terbaru OPEC membatasi produksi minyak UEA hanya 3,2 juta barel per hari, padahal kapasitas riilnya mencapai 5 juta barel per hari.
Tambahan pasokan potensial dari UEA diperkirakan hanya akan memenuhi sekitar 1-2 persen dari permintaan minyak global harian.
OPEC sendiri saat ini semakin lemah dibandingkan masa jayanya. Pengaruh OPEC mulai tergerus sejak Amerika Serikat menjadi net eksportir minyak. Selain itu, konsumsi minyak global juga berkurang karena elektrifikasi, efisiensi energi, serta meningkatnya penggunaan gas alam dan energi terbarukan.
Untuk memperkuat otoritasnya, OPEC sempat memperluas keanggotaan dengan menggandeng Rusia dan negara produsen lain di bawah payung OPEC+ pada 2016. Kini, OPEC+ menguasai hampir 42 persen produksi minyak mentah global.
Dalam jangka panjang, kepergian UEA dapat meningkatkan pasokan minyak mental. Secara teori, ketika Selat Hormuz kembali terbuka, pasokan yang lebih tinggi seharusnya menekan harga minyak.
Keputusan mengejutkan UEA keluar dari OPEC disebut sebagai langkah untuk mengamankan porsi lebih besar dari pasar minyak global. Begitu Selat Hormuz terbuka, UEA akan segera meningkatkan pasokan tanpa harus melalui negosiasi kuota ala OPEC.
Para ekonom memprediksi, OPEC yang semakin lemah dan retak dapat membatasi pengaruh kartel tersebut terhadap harga minyak. Hal itu pada akhirnya berpotensi menekan harga BBM di seluruh dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....