Saham Pertahanan Eropa Mereda, Konsolidasi di 2026

  • 31 Mei 2026 21:02 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Saham sektor pertahanan Eropa yang semula melambung tinggi mulai kehilangan momentum. Setelah menikmati kenaikan signifikan sepanjang 2025 karena peningkatan target belanja militer negara-negara di tengah ketidakstabilan geopolitik, kinerja sektor ini kini cenderung datar.

Indeks Stoxx Europe Aerospace & Defence tercatat turun 1,2% secara year-to-date, sementara indeks Stoxx 600 yang lebih luas justru tumbuh 4,8%. Para analis memandang tahun 2026 sebagai periode konsolidasi, di mana optimisme berlebih terhadap belanja pertahanan Eropa akan berganti dengan pengawasan ketat terhadap kinerja fundamental masing-masing perusahaan.

"Investor kini sangat selektif. Mereka ingin melihat laba dan arus kas. Kenaikan mungkin akan terlihat di paruh kedua tahun, saat pesanan masuk, uang muka pemerintah cair, dan pengiriman dilakukan. Namun butuh waktu bagi harga saham untuk kembali ke level sebelumnya," ujar Loredana Muharremi, analis ekuitas di Morningstar.

Saham perusahaan pertahanan semula bertahan baik setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu, karena kekhawatiran konflik meluas ke seluruh Timur Tengah. Namun sejak saat itu, kenaikan saham raksasa industri ini terbatas. Beberapa ETF pertahanan Eropa bahkan masih berada di bawah level sebelum konflik.

Sentimen pasar semakin melemah pada musim semi setelah laporan pendapatan kuartal pertama yang mengecewakan. Rheinmetall, sebagai barometer industri, meleset dari perkiraan laba sehingga investor mulai mempertanyakan potensi kenaikan lebih lanjut di tengah valuasi yang sudah tinggi. Saham Rheinmetall sendiri melonjak 400% dalam tiga tahun terakhir.

"Ketika saham diperdagangkan dengan kelipatan harga yang sangat tinggi dan pertumbuhan besar sudah diperhitungkan, sulit menentukan kelipatan valuasi yang tepat untuk Rheinmetall," kata Matthew Dorset, analis riset ekuitas Quilter Cheviot.

Dorset juga melihat potensi kesulitan perusahaan dalam beradaptasi dengan dinamika perang modern dan kebutuhan peralatan yang berubah. "Pelajaran dari Ukraina adalah bahwa perang saat ini didominasi drone dan perang anti-drone. Apakah kita benar-benar membutuhkan banyak kendaraan darat, tank, dan artileri?" tambahnya.

Sementara itu, Muharremi dari Morningstar menilai perusahaan yang memiliki diversifikasi produk, terutama dengan komponen elektronik kuat, akan lebih baik dibandingkan perusahaan yang berbasis darat.

Angin Segar dari Geopolitik

Meski demikian, masih ada potensi angin segar dari lingkungan geopolitik, meskipun dalam skala lebih kecil. Saham pertahanan Eropa sempat rally pekan lalu setelah parlemen Ukraina meratifikasi perjanjian pinjaman 90 miliar euro dengan Uni Eropa.

Selain itu, Ukraina dikabarkan akan mendapat jet tempur Gripen dari Swedia. Saham Saab, pabrikan jet tempur Swedia, melonjak 7,4%, menempati posisi teratas Stoxx 600. Saham Renk (Jerman) naik 5,4%, Exail Technologies (Prancis) melompat 13,2%, dan Rheinmetall naik 4,2%.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....