Anak Muda dan Budaya Self-Reward, Perlu atau Berlebihan?

  • 29 Jun 2026 14:25 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Belakangan ini, istilah self-reward semakin populer di kalangan anak muda. Self-reward biasanya diartikan sebagai bentuk hadiah untuk diri sendiri setelah berhasil mencapai sesuatu atau melewati aktivitas yang melelahkan. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari membeli makanan favorit, belanja pakaian, liburan singkat, hingga membeli barang yang sudah lama diinginkan.

Budaya self-reward muncul karena banyak anak muda mulai sadar pentingnya menghargai diri sendiri. Setelah bekerja keras, menyelesaikan tugas, atau menghadapi tekanan hidup sehari-hari, mereka merasa perlu memberikan apresiasi terhadap usaha yang sudah dilakukan. Hal ini dianggap bisa membantu meningkatkan semangat dan menjaga kesehatan mental.

Media sosial juga memiliki pengaruh besar terhadap tren self-reward. Banyak konten di TikTok dan Instagram yang menunjukkan gaya hidup self-care, healing, dan hadiah untuk diri sendiri. Akibatnya, konsep self-reward semakin sering dianggap sebagai bagian dari gaya hidup modern anak muda.

Di sisi positif, self-reward memang bisa menjadi motivasi. Seseorang bisa merasa lebih dihargai setelah bekerja keras dan memiliki target yang ingin dicapai. Memberikan hadiah kecil untuk diri sendiri juga dapat membantu mengurangi stres dan membuat suasana hati menjadi lebih baik.

Namun, budaya self-reward juga bisa menjadi berlebihan jika tidak dilakukan dengan bijak. Banyak orang menggunakan alasan self-reward untuk membeli barang secara impulsif atau menghabiskan uang di luar kemampuan mereka. Tidak sedikit yang akhirnya kesulitan mengatur keuangan karena terlalu sering mengikuti keinginan sesaat.

Selain itu, media sosial kadang membuat self-reward terlihat seperti keharusan untuk tampil mewah. Padahal, menghargai diri sendiri tidak selalu harus dengan barang mahal atau liburan yang menghabiskan banyak biaya. Hal sederhana seperti istirahat cukup, menonton film favorit, atau menikmati waktu bersama keluarga juga bisa menjadi bentuk self-reward.

Anak muda perlu memahami bahwa self-reward sebaiknya dilakukan sesuai kondisi dan kebutuhan. Menghargai diri sendiri memang penting, tetapi tetap harus mempertimbangkan prioritas dan kemampuan finansial agar tidak berubah menjadi gaya hidup konsumtif.

Pada akhirnya, budaya self-reward memiliki sisi positif jika dilakukan secara seimbang. Memberikan apresiasi kepada diri sendiri dapat membantu menjaga motivasi dan kesehatan mental. Namun, jika dilakukan secara berlebihan hanya demi mengikuti tren, self-reward justru bisa membawa dampak negatif dalam kehidupan sehari-hari.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....