Apa yang Terjadi pada Gambut setelah Terbakar?
- 12 Sep 2026 18:05 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Kebakaran lahan gambut tidak berhenti meninggalkan dampak ketika api berhasil dipadamkan. Lapisan gambut yang terbakar dapat mengalami kerusakan fisik, kehilangan cadangan karbon, hingga perubahan fungsi ekosistem.
Melansir Kementerian Lingkungan Hidup, kebakaran gambut dapat membakar lapisan atas gambut sekaligus menghilangkan cadangan karbon yang tersimpan di dalamnya. Kebakaran juga dapat menyebabkan emisi gas rumah kaca serta memicu terjadinya penurunan permukaan tanah atau subsiden.
Kerusakan tersebut dapat terjadi cukup cepat. Dalam salah satu kajian yang dipublikasikan Kementerian Lingkungan Hidup, kebakaran selama enam hari di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, tercatat menyebabkan hilangnya lapisan gambut hingga sekitar 25 sentimeter. Sementara kebakaran selama tiga pekan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, tercatat menghilangkan gambut hingga sekitar satu meter.
Dampak lainnya adalah perubahan kondisi fisik lahan. Melansir Kementerian Lingkungan Hidup, kerusakan ekosistem gambut pascakebakaran dapat ditandai dengan penurunan permukaan tanah, terbukanya lapisan bawah gambut, hingga munculnya senyawa pirit pada kondisi tertentu.
Gambut yang kehilangan lapisan organiknya juga dapat mengalami perubahan kemampuan dalam menyimpan dan mengatur air. Kondisi ini menjadi persoalan karena ekosistem gambut memiliki fungsi penting dalam tata air sekaligus sebagai penyimpan karbon.
Tidak hanya merusak tanah, kebakaran gambut juga berdampak terhadap ekosistem di atasnya. Vegetasi yang terbakar dan habitat yang rusak dapat mengganggu kehidupan berbagai jenis flora dan fauna yang bergantung pada kawasan gambut.
Melansir BRIN, kebakaran gambut memiliki karakteristik berbeda karena material gambut dapat mengalami pembakaran membara atau smouldering. Proses tersebut dapat berlangsung dalam waktu lama dan menghabiskan biomassa gambut dalam jumlah besar.
Karena itu, pemulihan lahan gambut pascakebakaran tidak cukup hanya dengan menanam kembali vegetasi. Melansir Kementerian Lingkungan Hidup, pemulihan ekosistem gambut dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan pemulihan fungsi hidrologis, vegetasi, serta kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah mengembalikan kondisi air atau rewetting, melakukan penanaman kembali atau revegetation, serta meningkatkan penghidupan masyarakat di sekitar kawasan gambut.
Upaya tersebut penting agar lahan yang telah terbakar tidak kembali mengalami kekeringan dan menjadi rentan terbakar. Dengan menjaga kondisi air dan vegetasi, fungsi ekologis gambut diharapkan dapat dipulihkan secara bertahap.
Dengan demikian, ketika api telah padam, persoalan kebakaran gambut sebenarnya belum sepenuhnya selesai. Kerusakan lapisan gambut, hilangnya karbon, perubahan tata air, dan terganggunya ekosistem dapat menjadi persoalan jangka panjang yang membutuhkan proses pemulihan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....