Mengenal Tradisi Panggih, Prosesi Penuh Makna dalam Pernikahan Adat Jawa
- 27 Agt 2026 09:57 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID., Bandarlampung - Sumatera menjadi salah satu wilayah yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang suku dan budaya. Salah satunya adalah masyarakat keturunan Jawa yang telah lama menetap di berbagai daerah di Sumatera. Meski hidup jauh dari tanah asal, sebagian masyarakat Jawa masih mempertahankan berbagai adat dan tradisi leluhur, termasuk dalam pelaksanaan pernikahan yang menggunakan tata cara adat Jawa.
Tradisi pernikahan adat Jawa memiliki berbagai rangkaian prosesi yang sarat dengan nilai dan filosofi kehidupan. Salah satunya adalah panggih, yaitu prosesi pertemuan kedua pengantin setelah akad nikah. Panggih menjadi salah satu bagian penting dalam pernikahan adat Jawa karena tidak hanya menandai pertemuan kedua mempelai, tetapi juga menjadi simbol bersatunya dua keluarga dan awal kehidupan baru sebagai pasangan suami istri.
Dalam pelaksanaannya, setelah akad nikah selesai, pengantin pria diarahkan untuk berdiri membelakangi gazebo atau tempat yang telah ditentukan. Pengantin wanita kemudian memasuki area tersebut dengan didampingi adik kandung yang memegang atau mengapitnya. Ketika pengantin wanita telah berada di belakang pengantin pria, adik kandung melepaskan pengantin wanita dan pengantin pria kemudian berbalik untuk melihat calon istrinya. Momen tersebut menjadi awal pertemuan kedua mempelai dalam rangkaian prosesi panggih.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan balangan gantal, yaitu kedua pengantin saling melempar gulungan daun sirih yang diikat dengan benang putih. Tahapan berikutnya adalah wiji dadi atau menginjak telur, ketika pengantin pria menginjak telur hingga pecah dan kemudian dibersihkan oleh pengantin wanita. Dalam filosofi adat Jawa, rangkaian tersebut menjadi simbol dimulainya kehidupan berumah tangga dan harapan akan hadirnya keturunan serta tanggung jawab dalam keluarga.
Rangkaian panggih selanjutnya meliputi wijikan atau membasuh kaki, kacar-kucur, dahar kembul, bobot timbang, tanem jero, hingga sungkeman. Dalam prosesi kacar-kucur, pengantin pria menuangkan biji-bijian, beras kuning, dan uang logam ke pangkuan pengantin wanita sebagai simbol tanggung jawab suami dalam memberikan nafkah.
Sementara itu, dahar kembul dilakukan dengan saling menyuapi nasi kuning sebagai lambang kerukunan, saling berbagi, dan menjalani kehidupan rumah tangga bersama dalam suka maupun duka.
Pada bagian akhir, terdapat bobot timbang yang menggambarkan kasih sayang orang tua kepada kedua mempelai tanpa membeda-bedakan, dilanjutkan tanem jero sebagai simbol doa dan restu agar pasangan mampu menjalani kehidupan baru dengan mantap. Prosesi kemudian ditutup dengan sungkeman, ketika kedua pengantin berlutut di hadapan orang tua untuk memohon maaf, menyampaikan rasa terima kasih, serta memohon restu.
Melalui rangkaian tersebut, tradisi panggih tidak sekadar menjadi pelengkap upacara pernikahan, tetapi juga menjadi warisan budaya yang mengajarkan nilai tanggung jawab, kerukunan, kasih sayang, penghormatan kepada orang tua, dan kesiapan membangun rumah tangga
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....