Mau MPASI Anak Lebih Tepat? Hindari Kesalahan yang Sering Terjadi di Dapur

  • 26 Agt 2026 06:29 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung : Makanan Pendamping Air Susu Ibu atau MPASI menjadi bagian penting dalam perjalanan tumbuh kembang anak setelah memasuki usia enam bulan. Pada fase ini, kebutuhan energi dan zat gizi anak mulai meningkat sehingga ASI perlu dilengkapi dengan makanan yang aman, bergizi, sesuai usia, dan diberikan dengan cara yang tepat.

Namun, menyiapkan MPASI tidak sekadar menghaluskan bahan makanan kemudian memberikannya kepada anak. Pemilihan bahan, komposisi menu, kebersihan alat, cara memasak, tekstur, penyimpanan, hingga cara memberikan makanan perlu diperhatikan.

Kesalahan yang terlihat sederhana di dapur dapat membuat MPASI kurang memenuhi kebutuhan gizi anak atau meningkatkan risiko makanan terkontaminasi.

Terlalu Fokus pada Tekstur, Lupa Komposisi

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah terlalu berfokus pada tekstur makanan. Orang tua terkadang lebih memperhatikan apakah makanan sudah cukup lembut atau mudah ditelan, tetapi kurang memperhatikan kandungan gizinya.

MPASI perlu memenuhi kebutuhan energi, protein, lemak, serta berbagai vitamin dan mineral. Karena itu, menu sebaiknya tidak hanya terdiri dari nasi atau sumber karbohidrat lain.

Bahan makanan sumber protein seperti telur, ikan, ayam, daging, hati, tahu, dan tempe dapat menjadi bagian dari menu sesuai kebutuhan dan kemampuan makan anak. Sumber protein hewani juga penting diperhatikan karena dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi dan zat gizi lainnya.

Menu juga dapat dilengkapi sayuran dan buah. Dengan variasi bahan makanan, anak memiliki kesempatan mengenal lebih banyak rasa dan tekstur sejak dini.

MPASI Hanya Berupa Bubur Cair

Kesalahan lain adalah memberikan MPASI dalam bentuk yang terlalu cair. Makanan yang terlalu banyak air dapat membuat porsi terlihat banyak, tetapi kandungan gizinya belum tentu cukup.

Tekstur makanan perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Pada awal pemberian MPASI, makanan dapat diberikan dalam bentuk lumat atau semi-padat. Seiring bertambahnya usia dan kemampuan makan, tekstur perlu dinaikkan secara bertahap.

WHO merekomendasikan peningkatan konsistensi dan variasi makanan secara bertahap sesuai perkembangan anak. Pada usia sekitar delapan bulan, sebagian besar bayi sudah dapat mulai mengonsumsi makanan yang dapat digenggam atau finger food dengan bentuk dan ukuran yang aman.

Artinya, MPASI tidak perlu terus-menerus dibuat sangat halus ketika anak sudah mampu menerima tekstur yang lebih kasar.

Terlalu Banyak Gula dan Garam

Keinginan agar makanan terasa lebih enak juga dapat membuat orang tua menambahkan gula, garam, atau penyedap secara berlebihan.

Padahal, makanan untuk bayi dan anak kecil perlu dibiasakan dengan rasa alami dari bahan makanan. Kementerian Kesehatan mengingatkan agar penggunaan gula dan garam dalam MPASI dibatasi. WHO juga merekomendasikan agar gula dan garam tidak ditambahkan ke makanan bayi dan anak kecil.

Rasa makanan dapat diperkenalkan melalui bahan-bahan alami dan variasi menu. Dengan begitu, anak dapat mengenal beragam rasa tanpa harus bergantung pada rasa manis atau asin yang kuat.

Mengabaikan Kebersihan Tangan dan Peralatan

MPASI yang bergizi tetap perlu disiapkan secara higienis. Salah satu kesalahan yang sering luput adalah langsung mengolah makanan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

Tangan, peralatan makan, talenan, pisau, wadah penyimpanan, dan permukaan dapur perlu dijaga kebersihannya. Bahan makanan juga perlu dicuci dan diolah menggunakan air yang aman.

Kementerian Kesehatan menekankan bahwa MPASI harus aman dan higienis, termasuk melalui penggunaan alat makan yang bersih, memasak makanan dengan benar, mencegah pencampuran bahan mentah dengan makanan matang, serta menggunakan sumber air bersih.

Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan sebelum menyuapi anak menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kontaminasi.

Mencampur Bahan Mentah dan Makanan Matang

Kesalahan lain di dapur adalah menggunakan alat yang sama untuk bahan makanan mentah dan makanan yang sudah matang tanpa dibersihkan terlebih dahulu.

Misalnya, talenan yang digunakan untuk memotong daging atau ikan mentah kemudian digunakan untuk makanan matang. Jika tidak dibersihkan dengan baik, mikroorganisme dari bahan mentah dapat berpindah ke makanan yang siap dikonsumsi.

Karena itu, bahan mentah dan makanan matang perlu dipisahkan selama proses persiapan. Kebersihan alat dan permukaan kerja juga perlu diperhatikan.

Memasak Tidak Sampai Matang

Makanan untuk bayi perlu dimasak hingga matang dengan baik. Memasak bukan hanya bertujuan membuat bahan makanan lebih mudah dimakan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan pangan.

Bahan seperti telur, daging, ikan, dan unggas perlu diolah dengan cara yang tepat. Makanan yang belum matang sempurna dapat meningkatkan risiko paparan mikroorganisme yang tidak diinginkan.

Setelah matang, makanan juga sebaiknya tidak dibiarkan terbuka terlalu lama. Jika akan disimpan, gunakan wadah yang bersih dan metode penyimpanan yang sesuai.

Menyimpan MPASI Tanpa Memperhatikan Keamanan

Kesalahan dalam penyimpanan juga tidak boleh dianggap sepele. Makanan yang sudah dimasak dapat mengalami penurunan kualitas atau terkontaminasi apabila disimpan dengan cara yang tidak tepat.

MPASI yang akan disimpan perlu ditempatkan dalam wadah bersih dan tertutup. Makanan juga perlu diberi perhatian khusus terkait waktu dan kondisi penyimpanannya.

Jika makanan sudah berubah bau, warna, rasa, atau menunjukkan tanda kerusakan, sebaiknya tidak diberikan kepada anak.

Prinsip keamanan pangan menjadi bagian dari pemberian MPASI karena makanan yang tidak aman dapat menimbulkan masalah kesehatan. WHO menekankan pentingnya penanganan, persiapan, penyimpanan, serta pemberian makanan dengan cara yang higienis.

Porsi Terlalu Banyak

Semangat memberikan makanan bergizi terkadang membuat orang tua langsung memberikan porsi dalam jumlah besar. Padahal, anak yang baru mulai MPASI masih dalam tahap belajar mengenal makanan.

WHO merekomendasikan pemberian makanan dalam jumlah kecil pada awal pemberian MPASI dan secara bertahap meningkatkan jumlahnya sesuai pertambahan usia anak.

Anak juga memiliki kapasitas makan dan selera yang berbeda. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan respons anak terhadap makanan yang diberikan.

Memaksa Anak Menghabiskan Makanan

Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah memaksa anak menghabiskan makanan ketika sudah menunjukkan tanda kenyang.

Pemberian MPASI sebaiknya dilakukan secara responsif, yaitu dengan memperhatikan tanda lapar dan kenyang anak. Ketika anak menutup mulut, memalingkan wajah, atau menunjukkan tanda sudah cukup, orang tua dapat memberikan kesempatan untuk berhenti makan.

Sebaliknya, ketika anak menunjukkan tanda lapar dan tertarik terhadap makanan, orang tua dapat merespons dengan memberikan makanan secara perlahan dan sabar. Pendekatan ini merupakan bagian dari prinsip responsive feeding yang direkomendasikan WHO.

Memberikan Makanan Terlalu Cepat

Proses makan juga membutuhkan waktu. Anak perlu belajar mengambil makanan, mengunyah, menelan, serta mengenali rasa dan tekstur.

Memberikan makanan dengan terburu-buru dapat membuat suasana makan menjadi tidak nyaman. Karena itu, orang tua atau pengasuh perlu memberikan waktu yang cukup kepada anak untuk menikmati makanannya.

Suasana makan yang tenang juga dapat membantu anak membangun hubungan yang positif dengan makanan.

Menu Kurang Beragam

Memberikan menu yang sama setiap hari memang praktis, tetapi variasi makanan tetap diperlukan agar kebutuhan zat gizi anak dapat lebih terpenuhi.

MPASI dapat dibuat dari bahan makanan yang tersedia di rumah. Tidak selalu harus menggunakan bahan yang mahal. Makanan keluarga dapat dimodifikasi agar sesuai dengan usia, tekstur, kebutuhan, dan keamanan untuk anak. Kementerian Kesehatan juga menyediakan contoh pemanfaatan bahan makanan keluarga untuk MPASI.

Yang perlu diperhatikan adalah komposisi menu, kebersihan, kematangan, serta teksturnya.

Jangan Terburu-buru Memberikan MPASI

MPASI pada umumnya mulai diberikan sekitar usia enam bulan. Pemberian makanan pendamping terlalu dini maupun terlambat tidak sesuai dengan prinsip pemberian makan bayi dan anak yang dianjurkan.

WHO dan Kementerian Kesehatan merekomendasikan pemberian MPASI mulai usia enam bulan, sambil tetap melanjutkan pemberian ASI.

Pada usia enam hingga delapan bulan, WHO merekomendasikan pemberian makanan pendamping sekitar dua hingga tiga kali sehari. Frekuensi kemudian meningkat menjadi tiga hingga empat kali sehari pada usia sembilan hingga 23 bulan, dengan tambahan makanan selingan sesuai kebutuhan.

MPASI Bukan Sekadar Membuat Anak Kenyang

Pada akhirnya, MPASI bukan hanya soal membuat anak kenyang. Masa pemberian makanan pendamping merupakan periode penting ketika anak mulai mengenal berbagai makanan dan membangun pola makan yang dapat terbawa hingga tahap berikutnya.

MPASI yang tepat perlu memenuhi beberapa prinsip utama, yakni diberikan pada waktu yang tepat, cukup memenuhi kebutuhan gizi, aman dan higienis, serta diberikan secara responsif sesuai tanda lapar dan kenyang anak.

Kesalahan dalam menyiapkan MPASI sering kali bukan berasal dari hal yang rumit. Kebiasaan seperti lupa mencuci tangan, menggunakan alat yang kurang bersih, memberikan makanan terlalu cair, kurang memperhatikan sumber protein, menambahkan gula dan garam secara berlebihan, atau memaksa anak makan dapat terjadi dalam aktivitas sehari-hari.

Karena itu, orang tua dan pengasuh perlu lebih teliti sejak memilih bahan hingga makanan sampai ke tangan anak.

Dengan memperhatikan kebersihan, keamanan, kandungan gizi, tekstur, porsi, variasi makanan, serta respons anak saat makan, pemberian MPASI dapat menjadi proses yang lebih aman sekaligus membantu anak mengenal pola makan yang sehat sejak dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....