Erupsi Anak Gunung Krakatau: Dampak dan Upaya Menjaga Kualitas Udara di Sekitarnya

  • 10 Sep 2026 11:12 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID Bandar Lampung - Letusan Anak Gunung Krakatau yang terjadi berkali-kali selalu menjadi perhatian masyarakat, bukan hanya karena keindahan pilar api dan abu yang menjulang tinggi, melainkan juga dampaknya terhadap kualitas udara yang kita hirup sehari-hari. Terletak di Selat Sunda, letusan gunung ini tidak hanya memengaruhi wilayah sekitarnya seperti Kabupaten Pandeglang, Serang, hingga Lampung Selatan, tetapi juga membawa pengaruh pada kondisi udara di wilayah yang lebih luas.

Dikutip dari laman Kemenkes.go.id, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus memperkuat pemantauan kualitas udara menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik yang berdampak pada sejumlah wilayah. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof. Dante Saksono Harbuwono mengimbau masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar ruangan untuk menggunakan masker, terutama di wilayah dengan konsentrasi partikulat yang masih tinggi.

“Saya mengimbau kepada masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan tetap menggunakan masker karena particulate matter-nya yang 2,5 masih di atas normal,” ujar Prof. Dante.

Saat meletus, Anak Gunung Krakatau memancarkan berbagai materi ke udara, mulai dari abu vulkanik halus, debu, uap air, hingga gas-gas seperti sulfur dioksida, karbon dioksida, dan nitrogen oksida. Materi-materi ini kemudian terbawa angin dan menyebar ke berbagai arah, tergantung arah dan kecepatan angin pada saat itu.
Abu vulkanik yang berukuran sangat halus, terutama yang masuk kategori debu halus (PM2,5 dan PM10), adalah yang paling berbahaya. Partikel ini sangat ringan sehingga bisa melayang di udara selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, menurunkan tingkat kejernihan udara dan menurunkan kualitas udara ke kategori tidak sehat bahkan berbahaya. Selain itu, gas yang dikeluarkan juga dapat bereaksi di udara membentuk zat lain yang mengganggu pernapasan.
Penurunan kualitas udara akibat erupsi ini memberikan dampak nyata bagi kehidupan:
  • Bagi kesehatan: Menimbulkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, batuk-batuk, sesak napas, hingga memperburuk penyakit asma, bronkitis, dan penyakit paru-paru lainnya. Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit jantung serta paru-paru.
  • Bagi lingkungan: Abu yang menutupi langit dapat mengurangi penyinaran matahari, mengganggu tanaman, dan mengendap di permukaan tanah serta air yang jika berlebihan dapat mengganggu ekosistem perairan Selat Sunda.
  • Dampak harian: Mengganggu aktivitas luar ruangan, mengganggu penerbangan, hingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi warga yang tinggal di jalur sebaran abu.
Saat kualitas udara memburuk akibat erupsi, kita bisa melakukan langkah sederhana untuk melindungi diri:
  1. Pantau informasi resmi dari BMKG, Kementerian Lingkungan Hidup, dan instansi terkait mengenai status gunung dan kondisi kualitas udara secara berkala.
  2. Kurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk. Jika harus keluar, pakai masker minimal tipe N95 atau masker kain berlapis ganda dengan benar.
  3. Tutup rapat pintu dan jendela rumah, hindari menyalakan ventilasi yang menghisap udara dari luar.
  4. Bersihkan debu yang masuk ke dalam rumah dengan kain lembap, jangan menyapu kering agar debu tidak beterbangan kembali.
  5. Perbanyak minum air putih, makan makanan bergizi, dan istirahat cukup agar daya tahan tubuh tetap kuat.
Pemerintah melalui berbagai instansi terus melakukan pemantauan secara terus-menerus, mulai dari aktivitas vulkanik hingga pengukuran kualitas udara di berbagai titik pantau. Jika kualitas udara sudah berada di tingkat berbahaya, biasanya akan dikeluarkan imbauan khusus hingga penutupan wilayah yang terdampak.
Erupsi Anak Gunung Krakatau adalah bagian dari proses alam yang tak bisa kita cegah, namun dampaknya terhadap kualitas udara bisa kita kurangi dengan kewaspadaan, informasi yang tepat, dan kepedulian bersama. Kita tidak perlu panik berlebihan, namun juga tidak boleh mengabaikan tanda-tanda peringatan. Dengan menjaga diri dan saling mengingatkan, kita bisa melewati masa-masa erupsi dengan tetap sehat dan aman.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....