5 Kebiasaan Orang Tua yang tanpa Disadari Bisa Menghambat Percaya Diri Anak
- 27 Jul 2026 11:38 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung : Kepercayaan diri merupakan salah satu bekal penting yang membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berani mencoba hal baru, dan mampu menghadapi berbagai tantangan. Rasa percaya diri tidak muncul begitu saja, tetapi dibentuk melalui pengalaman sehari-hari, terutama dari pola asuh yang diterapkan orang tua di rumah.
Sayangnya, tanpa disadari masih banyak kebiasaan orang tua yang justru membuat anak merasa kurang yakin terhadap dirinya sendiri. Kebiasaan tersebut sering dilakukan dengan niat baik, seperti ingin melindungi anak atau menginginkan hasil terbaik. Namun jika dilakukan terus-menerus, dampaknya dapat memengaruhi perkembangan mental dan emosional anak.
Berikut lima kebiasaan orang tua yang sebaiknya mulai dihindari agar kepercayaan diri anak dapat tumbuh secara optimal.
1. Terlalu Sering Mengkritik Kesalahan Anak
Memberikan koreksi memang penting agar anak memahami mana yang benar dan salah. Namun, apabila kritik lebih sering diberikan dibandingkan apresiasi, anak dapat merasa bahwa dirinya tidak pernah cukup baik.
Kalimat seperti "Kamu selalu salah", "Kenapa tidak bisa seperti temanmu?", atau "Mama sudah bilang dari tadi" yang diucapkan berulang kali dapat membuat anak takut melakukan kesalahan. Akibatnya, anak menjadi ragu untuk mencoba hal baru karena khawatir kembali dikritik.
Anak yang terbiasa menerima kritik berlebihan juga berpotensi memiliki pandangan negatif terhadap dirinya sendiri. Mereka cenderung merasa kemampuan yang dimiliki tidak pernah memuaskan orang tua.
Sebaliknya, orang tua dapat mengarahkan anak dengan menjelaskan kesalahannya secara tenang, kemudian membantu mencari solusi agar anak belajar memperbaiki diri tanpa kehilangan rasa percaya diri.
2. Membandingkan Anak dengan Saudara atau Temannya
Setiap anak memiliki kecepatan belajar, minat, dan bakat yang berbeda. Namun masih banyak orang tua yang membandingkan anak dengan kakak, adik, sepupu, atau teman sebayanya sebagai bentuk motivasi.
Padahal, perbandingan justru dapat membuat anak merasa dirinya kurang berharga. Anak mulai berpikir bahwa kasih sayang orang tua bergantung pada prestasi atau kemampuan tertentu.
Kebiasaan ini juga dapat memunculkan rasa iri, rendah diri, bahkan menimbulkan persaingan yang tidak sehat di dalam keluarga.
Daripada membandingkan dengan orang lain, lebih baik orang tua membandingkan perkembangan anak dengan dirinya sendiri. Misalnya, mengapresiasi bahwa kemampuan membaca anak kini lebih baik dibanding beberapa bulan sebelumnya atau keberaniannya mulai meningkat dibanding sebelumnya.
3. Terlalu Melindungi dan Tidak Memberi Kesempatan Mandiri
Keinginan melindungi anak merupakan naluri setiap orang tua. Namun jika dilakukan secara berlebihan, anak justru kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi tantangan.
Misalnya, orang tua selalu mengerjakan tugas anak, memilihkan semua keputusan, atau langsung membantu setiap kali anak mengalami kesulitan. Akibatnya, anak menjadi terbiasa bergantung kepada orang lain.
Ketika menghadapi situasi baru, anak merasa tidak yakin mampu menyelesaikannya sendiri karena belum pernah diberi kesempatan mencoba.
Memberikan ruang bagi anak untuk belajar mandiri sesuai usianya akan membantu mereka mengenali kemampuan diri. Meskipun hasilnya belum sempurna, pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam membangun rasa percaya diri.
4. Jarang Memberikan Apresiasi atas Usaha Anak
Sebagian orang tua lebih fokus pada hasil akhir dibandingkan proses yang telah dilalui anak. Misalnya, anak hanya dipuji ketika menjadi juara, memperoleh nilai sempurna, atau memenangkan perlombaan.
Padahal, usaha yang dilakukan anak juga layak mendapatkan penghargaan. Ketika kerja keras tidak pernah dihargai, anak dapat merasa bahwa dirinya hanya bernilai jika berhasil menjadi yang terbaik.
Apresiasi sederhana seperti mengucapkan terima kasih, memberikan pelukan, atau mengatakan bahwa orang tua bangga karena anak sudah berusaha keras dapat meningkatkan motivasi sekaligus rasa percaya dirinya.
Anak akan memahami bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya selama ia terus belajar dan berusaha.
5. Tidak Memberikan Kesempatan Anak Menyampaikan Pendapat
Dalam beberapa keluarga, keputusan sering kali sepenuhnya ditentukan oleh orang tua tanpa melibatkan anak. Padahal, memberikan kesempatan anak untuk berbicara dapat melatih keberanian sekaligus kemampuan berpikir.
Jika pendapat anak sering dipotong, diabaikan, atau dianggap tidak penting, lama-kelamaan anak akan memilih diam. Mereka merasa apa yang dipikirkan tidak memiliki nilai.
Kondisi tersebut dapat terbawa hingga remaja bahkan dewasa, sehingga anak menjadi kurang percaya diri saat harus berbicara di depan orang lain, menyampaikan ide, maupun mengambil keputusan.
Orang tua dapat mulai membiasakan diskusi sederhana, seperti meminta pendapat anak mengenai kegiatan akhir pekan, pilihan menu makan, atau cara menyelesaikan masalah kecil di rumah. Dengan begitu, anak merasa didengar dan dihargai.
Peran Orang Tua dalam Menumbuhkan Percaya Diri Anak
Kepercayaan diri anak tumbuh dari lingkungan yang membuatnya merasa aman, diterima, dan dihargai. Orang tua tidak perlu menjadi sosok yang sempurna, tetapi perlu menjadi tempat yang nyaman bagi anak untuk belajar, mencoba, dan bahkan melakukan kesalahan.
Membangun rasa percaya diri membutuhkan proses yang konsisten. Memberikan dukungan, mengapresiasi usaha, mendengarkan pendapat anak, serta memberikan kesempatan untuk belajar mandiri dapat membantu anak berkembang menjadi pribadi yang lebih yakin terhadap kemampuannya sendiri.
Pada akhirnya, anak yang percaya diri bukanlah anak yang selalu berhasil dalam segala hal, melainkan anak yang berani mencoba, tidak mudah menyerah ketika gagal, serta percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk terus belajar dan berkembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....