Fakta Menarik: Mengapa Manusia Menguap Saat Melihat Orang Lain Menguap?

  • 29 Jul 2026 14:26 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung : Menguap merupakan aktivitas yang hampir setiap orang lakukan setiap hari. Selama ini, banyak orang menganggap menguap hanya terjadi karena rasa kantuk atau kelelahan. Namun, ada satu fenomena yang lebih menarik, yaitu seseorang dapat ikut menguap hanya karena melihat orang lain menguap, bahkan sekadar melihat foto, video, atau membaca kata "menguap".

Fenomena ini dikenal sebagai menguap menular atau contagious yawning. Hingga kini, perilaku tersebut masih menjadi salah satu topik yang menarik dalam penelitian mengenai cara kerja otak, interaksi sosial, dan perilaku manusia.

Mengapa Menguap Bisa Menular?

Berbeda dengan menguap biasa yang dipicu oleh rasa lelah atau perubahan kondisi tubuh, menguap menular terjadi karena adanya respons otak terhadap perilaku yang diamati.

Ketika seseorang melihat orang lain menguap, otaknya secara otomatis memproses gerakan wajah tersebut. Pada sebagian orang, proses ini memicu dorongan untuk melakukan gerakan yang sama tanpa disadari.

Fenomena ini termasuk dalam kategori perilaku imitasi otomatis, yaitu kecenderungan manusia meniru ekspresi, gerakan, atau tindakan orang lain secara spontan. Perilaku seperti ini juga terlihat ketika seseorang ikut tersenyum saat melihat orang lain tersenyum atau merasa ingin tertawa ketika berada di tengah sekelompok orang yang sedang tertawa.

Tidak Semua Orang Mudah Tertular

Meski cukup umum terjadi, tidak semua orang akan menguap setelah melihat orang lain melakukannya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sekitar 40 hingga 60 persen orang dewasa lebih mudah mengalami menguap menular. Sementara itu, sebagian lainnya tidak memberikan respons apa pun meskipun berulang kali melihat orang lain menguap.

Perbedaan tersebut diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tingkat perhatian, usia, kondisi psikologis, hingga karakteristik individu.

Anak-Anak Memiliki Respons Berbeda

Fenomena menguap menular biasanya belum terlihat pada bayi dan balita.

Kemampuan ini mulai berkembang ketika anak memasuki usia sekitar empat hingga lima tahun. Seiring bertambahnya usia dan berkembangnya kemampuan sosial, kemungkinan anak mengalami menguap menular juga meningkat.

Hal tersebut menunjukkan bahwa fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan fungsi biologis, tetapi juga perkembangan otak dan kemampuan memahami orang lain.

Hubungan dengan Empati

Salah satu penjelasan yang paling banyak dibahas mengenai menguap menular adalah kaitannya dengan empati.

Empati merupakan kemampuan seseorang memahami atau merasakan apa yang dirasakan orang lain. Saat melihat seseorang menguap, otak diduga memproses tindakan tersebut sebagai bagian dari interaksi sosial sehingga memunculkan respons serupa.

Karena itu, seseorang cenderung lebih mudah tertular menguap dari orang yang dikenal, seperti anggota keluarga, sahabat, atau pasangan, dibandingkan orang asing.

Namun demikian, hubungan antara empati dan menguap menular masih terus dipelajari karena hasil penelitian di berbagai negara menunjukkan temuan yang tidak selalu sama.

Tidak Selalu Berhubungan dengan Kantuk

Banyak orang mengira menguap menular berarti tubuh sedang mengantuk. Kenyataannya, keduanya tidak selalu berkaitan.

Seseorang dapat menguap meskipun merasa segar dan cukup tidur hanya karena melihat orang lain melakukannya. Bahkan, fenomena tersebut juga bisa muncul saat menonton film, mengikuti rapat daring, melihat unggahan media sosial, atau membaca artikel yang membahas tentang menguap.

Hal ini menunjukkan bahwa pemicu utama menguap menular bukan sekadar kondisi tubuh, tetapi juga rangsangan visual dan cara otak merespons informasi tersebut.

Teori Mengenai Fungsi Menguap

Selain membahas mengapa menguap dapat menular, para peneliti juga masih mencoba memahami fungsi utama menguap itu sendiri.

Beberapa teori menyebutkan bahwa menguap membantu mengatur suhu otak agar tetap optimal. Ada pula yang berpendapat bahwa menguap meningkatkan tingkat kewaspadaan ketika seseorang mulai merasa lelah atau kurang fokus.

Teori lain mengaitkan menguap dengan perubahan kondisi tubuh ketika berpindah dari keadaan santai menuju lebih waspada, atau sebaliknya.

Meski berbagai teori telah dikemukakan, belum ada satu penjelasan yang sepenuhnya diterima sebagai jawaban pasti mengenai fungsi biologis menguap.

Fenomena yang Juga Terjadi pada Hewan

Menariknya, menguap menular tidak hanya ditemukan pada manusia.

Sejumlah penelitian menunjukkan perilaku serupa juga dapat diamati pada beberapa spesies hewan, seperti simpanse, bonobo, anjing, serigala, dan beberapa jenis primata lainnya.

Pada hewan sosial, perilaku ini diduga membantu menyelaraskan aktivitas kelompok, misalnya saat waktu beristirahat atau ketika seluruh anggota kelompok perlu meningkatkan kewaspadaan secara bersamaan.

Mengapa Membaca Tentang Menguap Bisa Membuat Ikut Menguap?

Tidak sedikit orang yang mengaku ikut menguap ketika membaca artikel mengenai menguap.

Hal tersebut terjadi karena otak mampu membayangkan suatu tindakan hanya melalui deskripsi atau visualisasi. Saat seseorang membaca kata "menguap", membayangkan gerakannya, atau melihat ilustrasi orang menguap, area tertentu di otak dapat aktif seolah-olah sedang mengamati tindakan tersebut secara langsung.

Akibatnya, dorongan untuk menguap pun muncul meskipun tidak ada orang lain yang benar-benar menguap di dekatnya.

Masih Menjadi Misteri Ilmiah

Walaupun telah diteliti selama bertahun-tahun, menguap menular masih menyimpan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Para peneliti masih berusaha memahami hubungan antara aktivitas otak, perilaku sosial, empati, dan faktor biologis yang memengaruhi fenomena tersebut.

Yang jelas, menguap bukan sekadar tanda mengantuk. Respons sederhana ini ternyata melibatkan mekanisme otak yang kompleks dan menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk merespons perilaku orang lain, bahkan melalui tindakan sesederhana menguap.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tubuh dan otak manusia masih menyimpan banyak misteri yang terus dipelajari. Hal-hal yang tampak biasa dalam kehidupan sehari-hari sering kali memiliki proses biologis dan sosial yang jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....