Nostalgia Permainan Congklak, Warisan Budaya yang Sarat Nilai Edukasi

  • 26 Jul 2026 20:42 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung : Di tengah maraknya permainan digital yang semakin mendominasi waktu luang anak-anak, permainan tradisional congklak tetap menyimpan tempat tersendiri di hati banyak masyarakat Indonesia. Permainan yang pernah menjadi teman masa kecil lintas generasi ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarat akan nilai edukasi dan budaya.

Congklak dimainkan menggunakan papan kayu yang memiliki dua deret lubang kecil dan dua lubang besar di kedua ujungnya. Biji congklak yang dahulu berasal dari kerang kecil, biji sawo, atau biji-bijian lainnya dipindahkan dari satu lubang ke lubang lain sesuai aturan permainan hingga salah satu pemain mengumpulkan biji terbanyak di lumbung miliknya.

Bagi masyarakat Indonesia, congklak bukan sekadar permainan untuk mengisi waktu senggang. Permainan ini menjadi bagian dari kenangan masa kecil ketika anak-anak berkumpul di teras rumah, halaman, atau bawah rindangnya pepohonan sambil bercanda dan belajar menerima kemenangan maupun kekalahan.

Selain menghadirkan nostalgia, congklak juga memiliki manfaat bagi perkembangan anak. Permainan ini melatih kemampuan berhitung, menyusun strategi, meningkatkan konsentrasi, serta mengajarkan kesabaran dalam mengambil keputusan.Tak heran jika congklak kerap diperkenalkan kembali sebagai media pembelajaran yang menyenangkan di sejumlah sekolah maupun kegiatan budaya.

Sejarawan menyebut permainan congklak telah dikenal di berbagai wilayah Asia dan Afrika selama berabad-abad dengan nama yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri, permainan ini memiliki beragam sebutan sesuai daerah, seperti dakon di Jawa, mokaotan di Sulawesi, hingga maggaleceng di beberapa wilayah lain. Meski namanya berbeda, cara bermain dan nilai yang terkandung di dalamnya relatif serupa.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai komunitas budaya dan pemerintah daerah mulai menghidupkan kembali permainan tradisional, termasuk congklak, melalui festival, lomba, hingga kegiatan edukasi di sekolah. Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari pelestarian budaya sekaligus memperkenalkan permainan tradisional kepada generasi muda yang lebih akrab dengan gawai.

Budayawan menilai permainan tradisional seperti congklak memiliki nilai sosial yang sulit tergantikan oleh permainan digital. Interaksi secara langsung membuat pemain belajar berkomunikasi, bekerja sama, menghargai lawan, serta mempererat hubungan antarteman maupun anggota keluarga. Meski zaman terus berubah, pesona congklak belum sepenuhnya pudar.Bagi banyak orang, melihat papan congklak dan deretan bijinya seolah membawa kembali kenangan masa kecil yang penuh tawa dan kebersamaan.

Di tengah derasnya arus modernisasi, melestarikan permainan congklak menjadi salah satu cara menjaga warisan budaya Indonesia agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang. Sebab, di balik permainan yang sederhana, tersimpan pelajaran tentang strategi, kesabaran, dan kebersamaan yang tetap relevan sepanjang zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....