Mewujudkan Warisan Hijau Lampung Timur Dibawah Kepemimpinan Ela-Azwar

  • 21 Feb 2026 12:03 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Lampung Timur: Satu tahun terakhir menjadi babak baru yang penuh optimisme bagi Kabupaten Lampung Timur. Dibawah kepemimpinan Bupati Ela Siti Nuryamah dan Wakil Bupati Azwar Hadi, Kabupaten yang dikenal dengan julukan "Bumei Tuwah Bepadan" ini tengah bertransformasi besar-besaran.

Fokus utama pembangunan kini tidak lagi hanya sekadar mengejar angka pertumbuhan, melainkan membangun keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan kelestarian alam melalui visi Kabupaten Konservasi dan Berkelanjutan (KKB).

Keberhasilan dan langkah strategis yang telah dicapai dalam masa awal kepemimpinan mereka sejak dilantik oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 lalu diantaranya Visi KKB yang bukan hanya sekadar konservasi, namun transformasi.

Langkah awal yang paling fundamental adalah pencanangan Grand Design KKB Lampung Timur 2026. Bupati Ela Siti Nuryamah menegaskan bahwa inisiatif ini lahir dari semangat untuk menjaga kekayaan hutan, pesisir, dan sumber daya alam yang melimpah di Lampung Timur.

Visi besarnya adalah menjadikan Lampung Timur sebagai daerah yang Hijau, Inklusif, dan Berdaya Saing, di mana kelestarian lingkungan menjadi fondasi utama pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat.

"Revolusi pengelolaan sampah dari limbah menjadi energi. Ini menjadi salah satu keberhasilan mencolok adalah program Hilirisasi Sampah melalui Ekonomi Sirkular. Kami telah mulai membangun pusat konversi sampah menjadi energi alternatif atau TPST-RDF dengan kapasitas mencapai 50 ton per hari. Program ini tidak hanya bertujuan membersihkan lingkungan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja hijau bagi sekitar 1.500 orang dan memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat melalui bank sampah di 24 kecamatan. Targetnya sangat ambisius: mengurangi emisi karbon daerah hingga 25.000 ton CO2e per tahun," jelas Ela dalam keterangannya, Sabtu (21/2/2026).

Selain itu Pemkab Lamtim juga berupaya memulihkan napas pesisir dan hutan. Lampung Timur memiliki garis pantai yang panjang namun rentan terhadap abrasi.

"Melalui Satgas Mangrove, pemerintah telah menggerakkan penanaman 100.000 bibit mangrove di kecamatan prioritas seperti Labuhan Maringgai, Pasir Sakti, dan Marga Sekampung. Di sektor perhutanan, keberhasilan terlihat pada pengembangan perhutanan sosial berbasis energi hijau. Dengan menanam 26.000 pohon Kaliandra di 44 desa, masyarakat kini memiliki sumber energi biomassa lokal sekaligus meningkatkan tutupan vegetasi hutan yang sempat terdegradasi," ujarnya.

Dikatakan Bupati, sebagai rumah bagi gajah Sumatera, Taman Nasional Way Kambas (TNWK) mendapat perhatian khusus. Kepemimpinan Ela-Azwar telah menetapkan 23 desa penyangga TNWK sebagai wilayah prioritas konservasi melalui skema Voluntary Carbon Village.

"Langkah ini merupakan terobosan cerdas; desa-desa tersebut kini tidak lagi hanya menjadi "penonton", melainkan pemain utama dalam menjaga hutan sambil membuka akses ekonomi baru dari perdagangan karbon dan ekowisata konservasi," kata dia lagi.

Pembangunan infrastruktur energi juga mengalami kemajuan pesat. Sebanya MWp PLTS Atap telah dipasang di sekolah-sekolah, puskesmas, dan gedung publik untuk mengurangi biaya operasional sekaligus menurunkan emisi.

"Selain itu, program Gas Kota telah diperluas ke 9 kecamatan, memberikan akses energi yang lebih bersih, murah, dan terjangkau bagi rumah tangga rentan serta UMKM. Selain itu kami juga membangun generasi hijau melalui pendidikan dengan program Green School Index (GSI)*l untuk menilai penerapan prinsip keberlanjutan di ratusan sekolah (SD dan SMP) se-Lampung Timur. Dengan membentuk 1.000 kader ekologi desa dan para "Duta Lingkungan Sekolah", pemerintah sedang menanamkan nilai-nilai gaya hidup hijau di setiap lini kehidupan masyarakat," jelasnya.

Ela menambahkan, dalam satu tahun terakhir, kepemimpinan Ela-Azwar telah membuktikan bahwa kemandirian daerah dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab global terhadap keberlanjutan.

"Melalui pendekatan kolaboratif yang disebut Gotong Royong Hijau, setiap desa di Lampung Timur kini didorong untuk menjadi pusat inovasi lingkungan. Keberhasilan ini bukan sekadar tentang angka-angka dalam laporan, melainkan tentang membangun warisan hijau (green legacy) bagi generasi mendatang agar mereka tetap bisa menikmati alam Lampung Timur yang asri dan makmur," kata dia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....