Martin Seligman Jelaskan Cara Membangun Resiliensi Hidup

  • 31 Jan 2026 22:06 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung — Resiliensi atau kemampuan bangkit dari tekanan dan kesulitan hidup menjadi salah satu keterampilan penting di tengah dinamika kehidupan modern. Resiliensi membantu seseorang tetap berfungsi secara mental, emosional, dan sosial meski berada dalam situasi penuh tantangan.

American Psychological Association (APA) mendefinisikan resiliensi sebagai proses beradaptasi secara baik ketika menghadapi trauma, stres, tragedi, atau sumber tekanan signifikan lainnya. Menurut APA, resiliensi bukan sifat bawaan semata, melainkan kemampuan yang dapat dipelajari dan dikembangkan sepanjang hidup.

Langkah pertama membangun resiliensi adalah menerima kenyataan. Psikolog klinis dari University of Pennsylvania, Dr. Martin Seligman, menjelaskan bahwa menerima kondisi sulit secara realistis membantu individu menghindari penyangkalan berlarut-larut yang justru memperbesar tekanan psikologis. Sikap menerima membuka ruang untuk berpikir solutif dan adaptif.

Selain itu, membangun koneksi sosial dinilai krusial. World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa dukungan sosial dari keluarga, teman, maupun komunitas berperan besar dalam memperkuat daya lenting seseorang. Individu yang memiliki relasi sehat cenderung lebih mampu mengelola stres dan emosi negatif.

Langkah berikutnya adalah melatih pengelolaan emosi. Psikolog kesehatan dari Harvard Medical School menyebutkan bahwa teknik sederhana seperti pernapasan sadar, mindfulness, dan refleksi diri dapat membantu otak merespons stres dengan lebih tenang. Kebiasaan ini memperkuat kontrol diri saat menghadapi tekanan mendadak.

Menetapkan tujuan kecil yang realistis juga menjadi bagian penting dari resiliensi. Menurut Dr. Lucy Hone, peneliti resiliensi dari University of Canterbury, fokus pada langkah-langkah kecil yang dapat dikendalikan membantu individu mempertahankan harapan dan rasa kompeten di tengah situasi sulit.

Terakhir, merawat diri secara konsisten menjadi fondasi resiliensi jangka panjang. Pola tidur cukup, aktivitas fisik teratur, serta menjaga makna hidup melalui nilai spiritual atau tujuan personal terbukti mendukung ketahanan mental seseorang.

Resiliensi bukan tentang menghindari masalah, melainkan kemampuan untuk tetap tumbuh, belajar, dan melangkah meski berada dalam kondisi tidak ideal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....