Komunitas KSL Gaungkan Pentingnya Menjaga Ekosistem Leuser
- 11 Feb 2026 15:37 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Komunitas Kami Sahabat Leuser (KSL) mengajak generasi muda Aceh untuk lebih peduli terhadap kelestarian Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Ajakan tersebut disampaikan dalam program siaran NGOBRAS: Ngobrol Bareng Komunitas yang disiarkan RRI Banda Aceh, Selasa (10/2/2026).
Ketua KSL, Yoza Aminullah, S.Ag, menjelaskan bahwa komunitas tersebut lahir pada 2017 sebagai wadah bagi anak muda yang ingin belajar dan terlibat langsung dalam upaya konservasi Leuser. Awalnya, KSL merupakan bagian dari kegiatan edukasi yang dilakukan Forum Konservasi Leuser (FKL), namun berkembang menjadi komunitas tersendiri karena tingginya minat anak muda untuk terlibat.
“Visi kami sederhana, bagaimana kata ‘Leuser’ terus terdengar di kalangan anak muda dan tumbuh rasa memiliki terhadap kawasan ini. Kalau rasa memiliki sudah ada, maka menjaga akan menjadi kesadaran bersama,” ujar Yoza.
| Baca juga: Emas Kawin Tak Boleh Bebani Calon Suami |
Ia menegaskan, Kawasan Ekosistem Leuser merupakan bentang alam penting yang sebagian besar berada di Aceh, mencakup sekitar 2,2 juta hektare. Kawasan ini menjadi habitat terakhir di dunia di mana empat satwa kunci orangutan Sumatra, harimau Sumatra, gajah Sumatra, dan badak Sumatra masih hidup berdampingan di alam liar.
Menurut Yoza, menjaga Leuser bukan semata-mata soal melindungi satwa, tetapi juga menjaga keseimbangan kehidupan manusia. “Kalau Leuser rusak, dampaknya bukan hanya pada satwa, tetapi juga pada kesehatan, ekonomi, dan stabilitas kehidupan masyarakat,” katanya.
Sebagai komunitas yang digerakkan secara sukarela, KSL aktif melakukan berbagai kegiatan penyadartahuan, seperti school visit, kelas konservasi, kampanye publik pada hari-hari lingkungan, hingga kunjungan lapangan ke stasiun penelitian. Sasaran utama mereka adalah pelajar dan mahasiswa, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Anggota KSL, Zanisa Vavaza, S.Si, mengatakan keterlibatan langsung dengan masyarakat di sekitar hutan memberikan banyak pelajaran berharga. Ia menilai sebagian masyarakat belum sepenuhnya menyadari bahwa mereka tinggal di kawasan yang sangat istimewa.
“Anak-anak di sekitar Leuser terbiasa melihat satwa liar dan menikmati air sungai yang bersih. Kadang mereka tidak sadar bahwa itu adalah keistimewaan yang harus dijaga,” ujar Zanisa.
Melalui pendekatan edukatif, KSL berupaya menumbuhkan kesadaran bahwa kerusakan hutan dapat berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, termasuk bencana banjir dan longsor. Zanisa menambahkan, komunitas ini terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang pendidikan.
“Tidak harus dari jurusan lingkungan atau kehutanan. Siapa pun bisa berkontribusi, baik melalui seni, media sosial, penelitian, maupun aksi nyata di lapangan,” katanya.
Saat ini, KSL memiliki anggota aktif sekitar 40 orang yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota yang berada dalam kawasan Leuser. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah menjangkau lebih banyak anak muda di daerah pinggiran hutan agar mereka dapat menjadi penggerak di wilayah masing-masing.
Di akhir perbincangan, Yoza menyampaikan pesan singkat namun tegas, “Jaga Leuser, jaga kehidupan.”
Pesan tersebut diperkuat oleh Zanisa yang menambahkan bahwa menjaga Leuser adalah tanggung jawab bersama. “Siapapun bisa melakukannya. Yang penting ada kemauan untuk peduli dan bertindak,” ujarnya.
Melalui NGOBRAS, KSL berharap semakin banyak generasi muda Aceh yang terlibat aktif dalam menjaga salah satu kawasan ekosistem terpenting di dunia itu demi keberlanjutan lingkungan dan masa depan bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....