Penggiat Budaya: Aceh Terputus dari Sejarahnya Sendiri

  • 31 Jan 2026 00:30 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh — Penggiat budaya sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya Aceh Tengah, Azman, M.A., menilai Aceh saat ini mengalami keterputusan serius dengan sejarah dan identitasnya sendiri. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab sulitnya Aceh kembali mencapai kejayaan seperti pada masa lalu.

Hal itu disampaikan Azman dalam KHUPIE SARENG PODCAST Episode #24 RRI Banda Aceh. Ia menyebut, generasi hari ini banyak yang tidak lagi mengenal sejarah besar Aceh, mulai dari kejayaan abad ke-13 hingga abad ke-16.

“Aceh ini pernah sangat jaya. Di abad ke-13, abad ke-15, hingga abad ke-16, kita punya tokoh-tokoh besar seperti Sultan Iskandar Muda dengan heroismenya, juga ahli mugayatah yang mampu menaklukkan Portugis di Selat Malaka. Tapi hari ini, kita seperti tuna sejarah,” ujar Azman.

Menurutnya, kemunduran Aceh pada penghujung abad ke-19 tidak terlepas dari hilangnya kesadaran masyarakat terhadap jati diri dan identitas sejarahnya. Padahal, pemahaman sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan mengenali diri sendiri sebagai sebuah entitas.

“Pengetahuan kesejarahan itu sebenarnya pengetahuan tentang diri kita. Kalau kita tidak tahu sejarah Aceh, tidak tahu siapa kita, maka kita akan begini-begini saja. Tidak mungkin Aceh bisa kembali ke masa keemasan tanpa memahami kejayaannya di masa lalu,” katanya.

Azman menambahkan, kurangnya pemahaman sejarah juga berdampak pada minimnya kepedulian terhadap cagar budaya. Banyak peninggalan sejarah yang hilang atau rusak karena masyarakat belum mampu membedakan mana cagar budaya yang dilindungi dan mana yang bukan.

“Banyak yang hilang karena dianggap benda itu bernilai ekonomi, mahal, lalu diambil. Padahal masyarakat belum paham mana yang dilindungi sebagai cagar budaya,” jelasnya.

Ia menegaskan, berdasarkan undang-undang, suatu objek dapat ditetapkan sebagai cagar budaya jika memenuhi sejumlah syarat. Di antaranya berusia minimal 50 tahun, mewakili gaya atau masa tertentu, serta memiliki arti penting bagi ilmu pengetahuan, pendidikan, sejarah, kebudayaan, sosial, politik, ekonomi, atau agama.

“Tidak semua benda tua itu cagar budaya. Batu di gunung mungkin sudah ribuan tahun, tapi kalau tidak punya nilai penting bagi sejarah, pendidikan, atau kebudayaan, maka itu bukan cagar budaya,” ujarnya.

Azman berharap, peningkatan literasi sejarah di tengah masyarakat dapat menjadi langkah awal untuk menjaga warisan budaya Aceh sekaligus membangun kembali identitas dan arah masa depan daerah tersebut.

“Kalau Aceh ingin maju dan kembali berjaya, maka kita harus berdamai dan terhubung kembali dengan sejarah kita sendiri,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....