Benarkah Minat Baca Gen Z Aceh Tinggi?

  • 30 Jan 2026 20:23 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Minat baca generasi Z di Aceh dinilai masih tinggi dan menunjukkan tren positif. Hal ini tercermin dari tingginya angka kunjungan ke Perpustakaan dan Kearsipan Aceh yang rata-rata mencapai 1.200 orang per hari.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Syaridin, S.Pd., M.Pd., mengatakan capaian tersebut ia amati sejak awal menjabat selama dua bulan 14 hari terakhir. Menurutnya, kunjungan generasi muda, khususnya Gen Z, bahkan kerap mengalami fluktuasi hingga 1.500 orang per hari.

“Kalau kita rata-ratakan sekarang itu mencapai 1.200 kunjungan per hari. Menurut saya ini luar biasa dan menunjukkan minat baca generasi muda Aceh masih sangat baik,” kata Syaridin dalam perbincangan program KHUPIE SARENG Podcast Episode #30 RRI Banda Aceh.

Ia menilai tingginya minat baca tersebut tidak terlepas dari faktor kenyamanan fasilitas perpustakaan. Menurutnya, generasi Z cenderung menyukai ruang baca yang nyaman, representatif, dan mendukung aktivitas literasi yang santai.

“Gen Z itu suka yang nyaman. Faktor gedung dan fasilitas ini menjadi salah satu daya tarik utama,” ujarnya.

Syaridin menegaskan, meski minat baca Gen Z sudah tinggi, pemerintah tetap perlu meningkatkan kualitas layanan. Untuk itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh terus melakukan pembenahan fasilitas gedung perpustakaan agar pelayanan kepada masyarakat semakin maksimal.

Ia menjelaskan, saat ini Perpustakaan dan Kearsipan Aceh memiliki dua gedung dengan fungsi berbeda. Satu gedung difokuskan sebagai pusat layanan perpustakaan, sementara gedung lainnya di kawasan Jalan T. Nyak Arif, berdekatan dengan Asrama Haji, difungsikan sebagai kantor kearsipan.

“Khusus gedung perpustakaan, kami terus lakukan peningkatan dan pembenahan agar mampu memberikan pelayanan yang optimal kepada pengunjung,” jelasnya.

Sementara itu, Ratu Baca Aceh 2024, Fania Shella, menilai upaya peningkatan literasi di Aceh perlu dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan generasi muda. Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala tersebut menyebutkan, budaya ngopi yang melekat di Aceh dapat menjadi pintu masuk untuk membangun ruang diskusi dan literasi.

“Program yang saya siapkan berangkat dari budaya Aceh yang terkenal dengan warung kopi. Dari situ lahir program ‘Ngopi Ngobrol Inspirasi’ sebagai ruang diskusi dan berbagi gagasan,” ujar Fania.

Menurut Fania, pendekatan literasi berbasis dialog santai dan inspiratif dapat mendorong generasi muda untuk lebih aktif membaca, berdiskusi, dan berkarya.

Dengan tingginya kunjungan perpustakaan serta hadirnya program literasi kreatif, pemerintah dan pegiat literasi berharap budaya membaca di kalangan generasi Z Aceh dapat terus tumbuh dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....