Penggiat Nilai Gen Z Kurang Peduli Cagar Budaya
- 30 Jan 2026 20:40 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Rendahnya kepedulian generasi muda, khususnya generasi Z, terhadap cagar budaya dinilai bukan karena sikap acuh, melainkan akibat minimnya pemahaman dan keterlibatan langsung. Hal tersebut mengemuka dalam KHUPIE SARENG Podcast Episode #24 RRI Banda Aceh yang membahas peran generasi muda dalam pelestarian cagar budaya.
Penggiat budaya sekaligus Sekretaris Dewan Kesenian Aceh (DKA) Pidie Jaya, T. Firdaus, S.T., mengatakan saat ini banyak generasi muda menganggap cagar budaya sebagai benda masa lalu yang tidak relevan dengan kehidupan mereka.
“Anak-anak Gen Z sekarang cenderung tidak aware dengan cagar budaya. Mereka menganggap itu urusan pemerintah, sementara masyarakat hanya melihat hasil akhirnya saja, seperti bongkahan batu atau bangunan tua,” ujar Firdaus.
Namun menurutnya, anggapan tersebut muncul karena generasi muda belum benar-benar terlibat langsung. Firdaus menegaskan, ketika seseorang mulai berkegiatan di kawasan cagar budaya, persepsi itu akan berubah.
“Begitu kita nyemplung di situ, rasanya berbeda. Walaupun hanya benda atau struktur bangunan, banyak hal menarik yang bisa dipelajari. Saya sendiri sejak 2017 sampai sekarang sudah hampir delapan tahun berkegiatan di cagar budaya dan rasanya ingin terus di situ sepanjang hayat,” katanya.
Firdaus menilai, mempelajari sejarah dan cagar budaya sejatinya merupakan langkah awal untuk menata masa depan. Menurutnya, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi sarana untuk memahami identitas dan jati diri.
“Ketika kita bercerita sejarah, sebenarnya kita sedang memulai masa depan. Dengan mengetahui sejarah, kita mengenal diri kita, kepribadian, dan identitas. Tanpa itu, kita tidak akan mampu menyusun masa depan secara sistematis,” jelasnya.
Pandangan serupa disampaikan Penggiat Budaya sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya Aceh Tengah, Azman, M.A. Ia menegaskan bahwa sejarah sesungguhnya melekat dalam kehidupan sehari-hari manusia.
“Sehari-hari yang kita lalui itu sebenarnya bagian dari sejarah. Kapan kita bisa makan, menulis, membaca, itu semua sejarah tentang diri kita yang diceritakan oleh orang tua,” ujarnya.
Azman menambahkan, ketertarikan terhadap sejarah kerap muncul setelah seseorang memahami makna dan kedekatan sejarah dengan kehidupan pribadi. Selama belum terlibat atau memahami, sejarah kerap dianggap membosankan dan hanya berhenti di museum.
“Kalau belum nyemplung, orang akan menganggap sejarah itu membosankan dan hanya jadi pajangan di museum. Padahal sejarah adalah cerita hidup kita sendiri,” pungkasnya.
Dirinya berharap generasi muda dapat lebih dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pelestarian cagar budaya agar kesadaran dan kepedulian terhadap sejarah dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....