Sekolah Literasi Indonesia Bekali Fasilitator di Wilayah Terdampak Bencana
- 06 Okt 2026 23:45 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Sekolah Literasi Indonesia (SLI), berkolaborasi dengan Respon Darurat Pendidikan (RDP) Dompet Dhuafa serta Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Provinsi Aceh, menggelar Pembekalan Fasilitator Program Pembelajaran Esensial Pascabencana Berbasis Literasi, di Banda Aceh, pada Minggu, 4 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan program pelatihan dan pendampingan bagi sekolah dan komunitas belajar di wilayah terdampak banjir Aceh, khususnya Pidie Jaya dan Aceh Utara.
Program tersebut berlangsung di empat titik di Pidie Jaya dan satu titik di Aceh Utara, dengan total peserta sebanyak 75 orang yang merupakan guru Sekolah Dasar (SD) dan MI Madrasah Ibtidaiyah (MI), serta penggiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
Koordinator Fasilitator wilayah Aceh, yang juga Bunda Dayah, Siti Nurhidayah menekankan bahwa kondisi pascabencana membutuhkan pendekatan belajar yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga memberi ruang bagi anak untuk kembali merasa nyaman, berekspresi, dan membangun semangat belajar. Karena itu, pembelajaran perlu dikemas secara kreatif, menyenangkan, serta dekat dengan kebutuhan anak.
Selain Bunda Dayah Pembekalan juga diberikan oleh, Andi Ahmadi sebagai Ketua Sekolah Literasi Indonesia dan Maya Safitri selaku Koordinator Program Sekolah Literasi Indonesia, yang hadir langsung dari Jakarta.
Para peserta mendapatkan penguatan mengenai aktivitas literasi kreatif dan menyenangkan yang mampu menguatkan kompetensi esensial bagi anak jenjang SD. Peserta juga dibekali keterampilan dalam memnberikan training bagi guru-guru di wilayah sasaran. Materi disampaikan secara interaktif melalui diskusi, kerja kelompok, serta simulasi sehingga peserta dapat menghubungkan konsep yang dipelajari dengan situasi yang mungkin mereka temui di lapangan.
Rahmiana selaku Koordinator TBM Aceh turut menyoroti pentingnya kolaborasi antara sekolah, TBM, fasilitator, dan masyarakat. Menurutnya, gerakan literasi tidak dapat berjalan sendiri, terlebih dalam situasi pascabencana. Ruang belajar perlu kembali dihidupkan melalui kerja bersama agar anak-anak tetap memiliki kesempatan untuk membaca, berinteraksi, dan belajar dengan cara yang menyenangkan.
Sementara itu, Maya menekankan bahwa peran fasilitator bukan sekadar menyampaikan materi namun memahami kondisi lapangan dan kebutuhan guru sebelum menentukan pendekatan yang tepat.
"Literasi bukan hanya tentang membaca buku. Anak juga perlu diberi ruang untuk bercerita, berpikir, menciptakan sesuatu, membaca lingkungannya, dan membangun kembali rasa percaya dirinya,” jelasnya.
Setelah sesi pembekalan dan diskusi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian tim fasilitator berdasarkan titik pendampingan di Pidie Jaya dan Aceh Utara. Pembagian ini menjadi langkah awal untuk mempersiapkan tim sebelum terjun langsung ke sekolah dan komunitas sasaran.
Kegiatan ditutup dengan dokumentasi bersama. Melalui pembekalan ini, SLI bersama pegiat literasi Aceh berharap para fasilitator mampu menghadirkan pendampingan yang adaptif dan bermakna, sekaligus membantu sekolah dan komunitas kembali membangun ruang belajar yang kreatif bagi anak-anak di wilayah terdampak bencana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....