Sampah Makanan Diam-Diam Jadi Ancaman Serius di Banda Aceh

  • 05 Agt 2026 09:44 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh: Sampah makanan atau food waste menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius di tengah upaya memperkuat ketahanan pangan dan menghadapi krisis iklim. Selain mengurangi ketersediaan pangan yang masih layak dikonsumsi, limbah makanan yang berakhir di tempat pembuangan akhir turut memberikan dampak terhadap lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.

Founder dan Executive Director Rumah Pangan Aceh, Rivan Rinaldi, mengatakan kebiasaan membuang makanan yang masih layak konsumsi perlu diubah melalui peningkatan kesadaran masyarakat. Menurutnya, langkah sederhana seperti membeli bahan makanan sesuai kebutuhan dan menghabiskan makanan yang telah disajikan dapat menjadi kontribusi nyata dalam mengurangi timbulan sampah makanan.

"Hemat itu bukan berarti pelit, tetapi membeli sesuai dengan kebutuhan. Jangan membuang-buang makanan, karena ketika makanan dibuang ke tempat sampah, itu bukan hanya mubazir, tetapi juga berdampak terhadap lingkungan," kata Rivan dalam Dialog Green Radio RRI Banda Aceh pada Sabtu 1 Agustus 2026.

Ia menilai perubahan perilaku konsumsi menjadi salah satu bentuk mitigasi yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Rivan mengungkapkan volume sampah di Banda Aceh mencapai sekitar 280 ton per hari dan mengalami peningkatan hingga sekitar 30 persen pada bulan Ramadan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya berkaitan dengan sistem pengelolaan, tetapi juga dipengaruhi oleh pola konsumsi masyarakat yang masih menghasilkan banyak limbah makanan.

Ia menjelaskan makanan yang terbuang akan menambah beban tempat pembuangan akhir yang kapasitasnya semakin terbatas. Menurutnya, apabila kebiasaan tersebut terus berlangsung, persoalan lingkungan akan semakin kompleks karena sampah organik yang menumpuk memerlukan pengelolaan yang tidak sedikit dan dapat memengaruhi kualitas lingkungan di sekitarnya.

Sebagai upaya mengurangi pemborosan pangan, Rumah Pangan Aceh menjalankan program food rescue dengan mengumpulkan makanan berlebih yang masih layak konsumsi dari hotel, restoran, maupun distributor pangan. "Tagline kami adalah menjembatani mereka yang berkelebihan dengan yang membutuhkan," ujar Rivan. Makanan yang telah melalui proses penyortiran kemudian disalurkan kepada panti asuhan, rumah singgah, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

Rivan berharap masyarakat semakin bijak dalam mengelola konsumsi pangan dan mulai membiasakan diri membeli serta mengolah makanan sesuai kebutuhan. Ia menegaskan bahwa upaya mengurangi sampah makanan tidak hanya membantu menjaga lingkungan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan dan membangun gaya hidup yang lebih berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....