Volume Sampah Banda Aceh Terus Meningkat

  • 31 Mei 2026 22:12 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Persoalan sampah masih menjadi tantangan serius di Kota Banda Aceh. Tingginya pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi masyarakat, serta minimnya pemilahan sampah dari sumber disebut menjadi penyebab utama meningkatnya volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Sekretaris Pusat Studi Lingkungan Hidup UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Ir. Syarifah Seicha Fathma, mengatakan kondisi TPA Gampong Jawa saat ini telah mengalami kelebihan kapasitas atau overload akibat terus bertambahnya timbunan sampah setiap hari.

Dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh pada program Green Radio, Sabtu 23 Mei 2026, Syarifah menjelaskan ketinggian timbunan sampah di TPA Gampong Jawa telah melampaui batas ideal yang ditetapkan dalam ketentuan teknis pengelolaan sampah.

"Kalau kita melihat kondisi saat ini, TPA Gampong Jawa sudah overload. Ketinggian timbunan sampah sudah mencapai lebih dari 27 meter, sementara dalam ketentuan idealnya berada pada kisaran 23 hingga 25 meter," ujarnya.

Menurut Syarifah, peningkatan jumlah penduduk di Banda Aceh berdampak langsung terhadap bertambahnya volume sampah yang dihasilkan masyarakat. Selain itu, perubahan gaya hidup masyarakat juga turut mempercepat laju produksi sampah, terutama sampah kemasan sekali pakai.

Ia mencontohkan meningkatnya penggunaan layanan pesan antar makanan dan belanja daring dalam beberapa tahun terakhir telah berkontribusi terhadap bertambahnya jumlah sampah rumah tangga yang masuk ke TPA.

"Perubahan pola konsumsi masyarakat sangat berpengaruh. Sekarang banyak aktivitas yang berbasis layanan antar, sehingga penggunaan kemasan sekali pakai juga semakin meningkat dibandingkan beberapa tahun lalu," katanya.

Syarifah menilai akar persoalan sampah di Banda Aceh bukan hanya tingginya volume sampah, tetapi juga belum optimalnya pemilahan sampah sejak dari sumber atau rumah tangga. Akibatnya, hampir seluruh jenis sampah bercampur dan berakhir di tempat pembuangan akhir.

Ia menjelaskan saat ini TPA Gampong Jawa lebih banyak berfungsi sebagai stasiun peralihan atau transfer station. Sampah yang dikumpulkan dari Banda Aceh terlebih dahulu dibawa ke Gampong Jawa sebelum kemudian diangkut menuju TPA Regional Blang Bintang.

Meski memiliki kapasitas yang lebih besar, Syarifah mengingatkan bahwa TPA Regional Blang Bintang juga memiliki keterbatasan daya tampung. Jika tidak diimbangi dengan upaya pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber, fasilitas tersebut diperkirakan akan menghadapi tekanan kapasitas dalam beberapa tahun ke depan.

"TPA Blang Bintang memang lebih besar, tetapi estimasi kapasitasnya juga tidak akan bertahan terlalu lama apabila pola pengelolaan sampah masih seperti saat ini," ujarnya.

Karena itu, ia mendorong penguatan program pengurangan sampah dari sumber, peningkatan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah, serta pengembangan sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular untuk mengurangi beban TPA.

Menurutnya, tanpa perubahan pola pengelolaan sampah, persoalan overload TPA akan terus berulang dan menjadi ancaman bagi lingkungan serta kualitas hidup masyarakat perkotaan.

"Penyelesaian masalah sampah tidak cukup hanya dengan memperluas TPA. Yang paling penting adalah mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA melalui pemilahan dan pengelolaan sejak dari rumah tangga," kata Syarifah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....