Karya Siswa Disabilitas Didorong Jadi Suvenir Wisata Bernilai Ekonomi

  • 02 Jul 2026 08:24 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Karya kreatif siswa penyandang disabilitas memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk suvenir wisata yang bernilai ekonomi. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Internasional Comdev Inbound (IBON) 2026, Universitas Syiah Kuala (USK) menggandeng akademisi dari Thailand untuk mendampingi siswa SLB YPAC Aceh agar mampu menghasilkan produk kreatif yang siap dipasarkan sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi mereka.

Hal tersebut disampaikan Dosen Pembimbing Comdev Inbound, Zulfikar Taqiuddin, saat menjadi narasumber dalam Talk Show Pro 2 RRI Banda Aceh bertema "Ketika Karya Siswa Disabilitas Menjadi Suvenir Wisata", pada Selasa 30 Juni 2026.

Zulfikar menjelaskan, program tersebut dilatarbelakangi oleh banyaknya siswa disabilitas yang memiliki keterampilan melukis, membatik, menjahit, hingga membuat kerajinan tangan, namun belum memiliki akses untuk mengembangkan kemampuan tersebut setelah lulus sekolah.

"Kami ingin menyinergikan kemampuan mereka dengan potensi desa wisata. Selama ini mereka memiliki keterampilan, tetapi setelah tamat sekolah banyak yang belum memiliki ruang untuk berkarya. Melalui program ini kami berharap karya mereka dapat menjadi produk suvenir yang memiliki nilai ekonomi," ujarnya.

Program tersebut melibatkan tim dosen Universitas Syiah Kuala serta akademisi dari Chulalongkorn University, Thailand. Kehadiran mitra internasional tidak hanya memberikan pendampingan dalam pengembangan produk, tetapi juga berbagi pengalaman mengenai pemberdayaan masyarakat berbasis industri kreatif yang telah berhasil diterapkan di Thailand.

Menurut Zulfikar, siswa disabilitas sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar. Mereka dinilai memiliki daya tangkap yang baik, kreativitas tinggi, serta loyalitas dalam bekerja. Yang masih menjadi tantangan adalah minimnya pendampingan, akses pemasaran, dan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan mereka.

"Kami tidak ingin masyarakat hanya melihat keterbatasannya. Mereka memiliki kemampuan luar biasa, hanya membutuhkan kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk berkembang," katanya.

Produk yang dinilai berpotensi dikembangkan antara lain lukisan mini, pembatas buku, sampul agenda, alas gelas (coaster), taplak meja, sarung bantal, hingga berbagai produk tekstil yang mengangkat motif khas Aceh. Produk-produk tersebut dipilih karena mudah dibawa wisatawan dan memiliki nilai fungsional sekaligus artistik.

Selain pengembangan produk, tim pengabdian juga berencana memberikan pelatihan pemasaran digital dan pembuatan konten media sosial agar para siswa mampu mempromosikan hasil karya mereka secara mandiri.

Mahasiswa pelaksana program, Putri Nandayani Purba, mengaku banyak memperoleh pengalaman selama mendampingi siswa SLB YPAC Aceh. Menurutnya, kreativitas para siswa jauh melampaui ekspektasinya.

"Saya melihat langsung bagaimana mereka membuat desain dengan sangat detail. Sebagai mahasiswa arsitektur, saya justru kagum karena kemampuan mereka dalam bidang seni sangat luar biasa. Mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk menunjukkan potensinya," ujar Putri.

Sementara itu, mahasiswa pelaksana lainnya, Fathya Rahmi Azzahra, menilai tantangan terbesar bukan berasal dari kemampuan para siswa, melainkan masih terbatasnya wadah untuk menampilkan karya mereka kepada masyarakat.

"Mereka memiliki semangat, ketulusan, dan kreativitas yang tinggi. Saat berkarya mereka benar-benar menikmati prosesnya. Harapan saya, masyarakat dapat melihat potensi mereka, bukan keterbatasannya," katanya.

Zulfikar berharap program tersebut menjadi langkah awal lahirnya ruang-ruang kreatif bagi penyandang disabilitas di Aceh. Ia juga mendorong pemerintah daerah, dunia usaha, serta masyarakat untuk bersama-sama memberikan dukungan melalui pembinaan, penyediaan ruang usaha, hingga penggunaan produk karya penyandang disabilitas sebagai suvenir resmi di berbagai kegiatan.

Menurutnya, pemberdayaan penyandang disabilitas tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan agar mereka mampu mandiri dan memiliki penghasilan dari hasil kreativitasnya.

"Harapan kami, semakin banyak pihak yang terlibat untuk membuka peluang bagi mereka. Mereka tidak membutuhkan belas kasihan, tetapi kesempatan untuk berkarya, dipercaya, dan dihargai. Ketika ruang itu diberikan, mereka mampu menghasilkan karya yang membanggakan dan memiliki nilai ekonomi," tutup Zulfikar.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....