Sekolah Inklusif Dimulai dari Pembiasaan Sehari-hari

  • 24 Mei 2026 07:01 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh — Kepala Sekolah SMP Bunga Matahari Interkultural School Banda Aceh, Nurhayati menilai budaya sekolah inklusif tidak cukup dibangun melalui aturan tertulis, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari seluruh warga sekolah.

Hal tersebut disampaikan dalam dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi RRI Banda Aceh dengan tema “Membangun Budaya Sekolah Inklusif: Dari Visi Kepala Sekolah ke Perilaku Sehari-hari”, Minggu 10 Mei 2026.

Menurut Nurhayati, sejak awal berdiri, SMP Bunga Matahari sudah menerapkan konsep keberagaman, baik dari sisi agama, budaya, hingga kebutuhan belajar siswa. Ia mengatakan sekolahnya tidak pernah secara khusus mempromosikan diri sebagai sekolah inklusi, namun kepercayaan masyarakat tumbuh melalui pengalaman para orang tua.

“Orang tua datang karena merasa didengar. Mereka mencari sekolah yang bisa memahami kebutuhan anak-anak mereka,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebagian besar siswa berkebutuhan khusus di sekolah tersebut merupakan anak dengan gangguan belajar spesifik seperti disleksia, disgrafia, ADHD, hingga autism spectrum disorder (ASD).

Nurhayati menuturkan, sekolah membangun budaya inklusif melalui pembiasaan sederhana, seperti mengenalkan kondisi siswa berkebutuhan khusus kepada teman-temannya sejak awal tahun ajaran. Menurutnya, langkah itu membuat siswa lain memahami bahwa setiap anak memiliki kebutuhan dan potensi berbeda.

“Anak-anak diajarkan bahwa dunia ini milik semua orang. Jadi mereka belajar sabar, membantu, dan menghargai temannya,” katanya.

Ia menambahkan, sekolah juga menerapkan sistem peer teaching, yakni siswa yang lebih memahami pelajaran membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar. Selain itu, siswa berkebutuhan khusus tetap dilibatkan dalam kegiatan sekolah seperti pentas seni dan kegiatan luar kelas.

Nurhayati mengakui membangun sekolah inklusif masih memiliki tantangan, terutama terkait fasilitas dan pendampingan bagi beberapa jenis disabilitas tertentu. Meski demikian, ia berharap semakin banyak sekolah di Aceh terbuka menerima siswa berkebutuhan khusus.

“Mimpi kami lima tahun ke depan, semakin banyak sekolah yang mau membuka ruang bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus, baik fisik maupun nonfisik,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....