BMKG Deteksi Ratusan Titik Panas di Aceh, Nagan Raya Paling Banyak

  • 31 Mei 2026 17:31 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 347 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Aceh . Titik panas ini terdeteksi sejak Sabtu 30 Mei 2026. Jumlah tersebut menjadi peringatan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah, terutama di Kabupaten Nagan Raya.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Nasyithah Az-Zahra Lubis, dalam laporan yang diterima RRI Banda Aceh Minggu 31 Mei 2026, menyebutkan pemantauan dilakukan selama periode pukul 00.00 WIB hingga 23.00 WIB dan menemukan ratusan titik panas yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Aceh.

"Berdasarkan data BMKG, Kabupaten Nagan Raya menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak. Sebagian besar hotspot terdeteksi di Kecamatan Darul Makmur dan sebagian lainnya di Kecamatan Tripa Makmur. Dari ratusan titik panas yang terpantau, sejumlah titik di Nagan Raya bahkan masuk kategori tinggi, menunjukkan potensi kebakaran yang lebih serius dibandingkan wilayah lainnya," katanya.

Selain Nagan Raya, titik panas juga terpantau di sejumlah daerah lain seperti Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Gayo Lues, Kota Subulussalam, dan Kota Lhokseumawe. Mayoritas hotspot di wilayah tersebut berada pada kategori sedang, sementara sebagian kecil masuk kategori rendah.

Tingginya jumlah titik panas di Nagan Raya sejalan dengan laporan kebakaran lahan yang sebelumnya terjadi di Kecamatan Darul Makmur dan Tripa Makmur. Kondisi cuaca panas yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir berpotensi meningkatkan risiko meluasnya kebakaran lahan apabila tidak segera ditangani.

BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama di wilayah yang terdeteksi memiliki konsentrasi titik panas tinggi. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan untuk membuka area perkebunan maupun pertanian karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas.

Pemantauan titik panas terus dilakukan secara berkala sebagai bagian dari upaya deteksi dini terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan di Aceh selama periode cuaca panas dan minim curah hujan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....