AGC Dorong Sampah Jadi Sumber Ekonomi Sirkular Aceh
- 23 Mei 2026 21:52 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Yayasan Aceh Green Conservation (AGC) mendorong masyarakat Aceh mulai memandang sampah sebagai sumber ekonomi sirkular yang memiliki nilai jual, bukan sekadar limbah yang harus dibuang.
Kepala Biro Organisasi Yayasan Aceh Green Conservation, Nuruliana Daba, S.Pd., mengatakan pengelolaan sampah berbasis daur ulang dapat menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan sampah perkotaan di Aceh.
“Kalau dikelola dengan baik maka sampah ini sebenarnya masih ada nilai ekonominya. Kita harus mengubah mindset dari kumpul-angkut-buang menjadi pilah-kelola-manfaatkan,” kata Nuruliana dalam Dialog Green Radio RRI Banda Aceh, Sabtu 9 Mei 2026.
| Baca juga: Banda Aceh Kembangkan Program Pilah Sampah |
Ia mencontohkan sejumlah inovasi pemanfaatan sampah yang sudah berkembang di Aceh, seperti kerajinan dari botol plastik hingga produk UMKM berbahan pelepah pinang.
Di salah satu desa di Kabupaten Bireuen, pelepah pinang bahkan telah diolah menjadi piring ramah lingkungan yang dipasarkan hingga luar Aceh.
“Ketika kita melihat itu, otomatis kita sudah melihat bahwa ini bukan lagi sampah, tapi bahkan bisa dijadikan produk yang bernilai jual tinggi,” ujarnya.
| Baca juga: Volume Sampah Banda Aceh Terus Meningkat |
Menurut Nuruliana, perempuan dan ibu rumah tangga memiliki peran penting dalam pengelolaan sampah karena menjadi pihak yang paling dekat dengan aktivitas rumah tangga dan belanja harian.
AGC selama ini melakukan pendekatan melalui kelompok pengajian, posyandu, dan komunitas ibu-ibu untuk mengedukasi pemilahan sampah rumah tangga.
“Peran ibu-ibu sangat krusial karena mereka yang paling dekat dengan produksi sampah rumah tangga, mulai dari plastik belanja hingga sampah organik dapur,” katanya.
Selain itu, Nuruliana menilai generasi muda juga harus menjadi agen perubahan melalui edukasi dan inovasi lingkungan.
Ia mencontohkan Kota Surabaya yang berhasil mengembangkan sistem pengelolaan sampah dengan melibatkan pihak ketiga dan memanfaatkan botol plastik sebagai alat pembayaran transportasi umum.
“Penyelesaian masalah sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah sendiri, melainkan tanggung jawab kita bersama,” ujar Nuruliana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....