Islam dan Martabat Pekerja: Memaknai Hari Buruh dalam Perspektif Syariat

  • 03 Mei 2026 08:27 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Peringatan Hari Buruh Internasional yang jatuh pada 1 Mei menjadi momentum untuk kembali merefleksikan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan dalam dunia kerja. Hal ini juga dibahas dalam program Kajian Islami Pro 1 RRI Banda Aceh yang mengangkat tema “Islam dan Martabat Pekerja: Memaknai Hari Buruh dalam Perspektif Syariat”. Dalam dialog tersebut, narasumber Ustaz Dr. Nur Khalis Mukhtar, Lc., MA menegaskan bahwa Islam sejak awal telah menempatkan pekerja pada posisi yang mulia dan terhormat.

Menurut Ustaz Nur Khalis, dalam ajaran Islam, pekerjaan bukanlah bentuk perbudakan, melainkan aktivitas yang memiliki nilai ibadah dan kemuliaan. Ia menyampaikan bahwa Islam sangat menjaga hak-hak pekerja serta mengangkat derajat mereka sebagai bagian penting dalam kehidupan sosial. “Islam itu sangat memuliakan para pekerja. Bahkan menjaga hak-hak mereka dan menempatkan pekerjaan sebagai sesuatu yang bernilai pahala,” ujarnya dalam siaran tersebut pada Jumat 1 Mei 2026.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam sejarah peradaban sebelum Islam, pekerja kerap diperlakukan tidak manusiawi, bahkan dianggap seperti budak tanpa hak. Namun, Islam hadir membawa perubahan besar dengan menjunjung tinggi keadilan dan keseimbangan antara pemberi kerja dan pekerja. “Kalau kita lihat peradaban sebelumnya, buruh sering kehilangan hak kemanusiaannya. Tapi dalam Islam, pekerjaan justru menjadi bentuk kemuliaan, bukan kehinaan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Ustaz Nur Khalis menekankan pentingnya pemberian upah yang adil dan tepat waktu sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW. Ia mengutip hadis yang menyebutkan agar upah diberikan sebelum keringat pekerja mengering. “Rasulullah sudah menegaskan, berikan upah sebelum keringatnya kering. Ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan kesejahteraan pekerja,” jelasnya.

Dalam dialog tersebut juga dibahas fenomena ketidakadilan yang masih terjadi di era modern, seperti eksploitasi tenaga kerja dan perlakuan tidak layak terhadap pekerja rumah tangga. Menanggapi hal ini, Ustaz Nur Khalis menegaskan bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama di hadapan Allah tanpa memandang profesi. “Pekerja, pembantu, atau buruh itu sama mulianya. Tidak boleh ada yang merendahkan, karena semua adalah hamba Allah,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa hubungan antara pemberi kerja dan pekerja harus dibangun atas dasar kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab. Islam mengajarkan agar tidak membebani pekerja di luar kemampuan serta memberikan hak-hak dasar seperti waktu istirahat, ibadah, dan perlindungan. “Tidak boleh ada kezaliman. Hubungan kerja harus dilandasi keadilan dan saling menghormati,” katanya.

Di akhir dialog, Ustaz Nur Khalis mengajak seluruh masyarakat untuk kembali kepada nilai-nilai Islam dalam memperlakukan pekerja. Ia berharap peringatan Hari Buruh tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga refleksi untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi. “Kalau kita kembali kepada ajaran Rasulullah, maka hubungan kerja akan harmonis, adil, dan penuh keberkahan,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....