Fasilitas dan Edukasi Inklusif Masih Jadi Tantangan di Banda Aceh
- 21 Apr 2026 07:04 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh — Upaya mewujudkan kota ramah disabilitas di Banda Aceh terus menunjukkan kemajuan, meski masih menghadapi berbagai tantangan, terutama pada aspek fasilitas publik dan pemahaman masyarakat.
Ketua Unit Layanan Disabilitas PSGA UIN Ar-Raniry, Hari Santoso, mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai menyediakan fasilitas seperti guiding block bagi tunanetra dan akses khusus di ruang publik.
“Perkembangan sudah ada, tapi belum maksimal. Masih ditemukan fasilitas yang tidak berfungsi optimal, seperti jalur yang terputus atau pemasangan yang tidak sesuai,” ujarnya dalam Dialog Disabilitas RRI Minggu 19 April 2026.
Ia mencontohkan, beberapa trotoar yang dilengkapi jalur pemandu justru tidak terhubung dengan baik, bahkan menyulitkan pengguna kursi roda karena desain yang tidak ramah. Hal ini menunjukkan perlunya pengawasan dan pemahaman teknis dalam pembangunan fasilitas inklusif.
Menurut Hari, penyediaan fasilitas bagi penyandang disabilitas bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan kewajiban negara dalam memenuhi hak warga. “Ini kebutuhan, bukan sekadar rasa kasihan,” tegasnya.
Selain infrastruktur, ia juga menyoroti pentingnya pendidikan inklusif dan peran keluarga dalam membangun kemandirian sejak dini. Orang tua diharapkan tidak terlalu protektif, tetapi memberikan ruang bagi anak disabilitas untuk belajar mandiri.
Hari menambahkan, teknologi saat ini telah membuka peluang besar bagi penyandang disabilitas untuk belajar dan berkembang. Namun, pemanfaatannya harus diarahkan secara positif.
Ia juga mengungkapkan bahwa Unit Layanan Disabilitas di kampus berperan sebagai penghubung antara mahasiswa disabilitas dan pihak akademik, termasuk dalam penyesuaian proses belajar.
“Misalnya mahasiswa yang mengalami kendala fisik, kelasnya bisa dipindahkan ke lantai dasar agar tetap bisa mengikuti perkuliahan,” jelasnya.
Di akhir dialog, ia mengajak masyarakat dan keluarga penyandang disabilitas untuk tidak ragu berkomunikasi dengan lembaga pendidikan agar kebutuhan mereka dapat dipenuhi secara tepat.
“Jangan melihat mereka sebagai objek, tapi sebagai subjek yang punya potensi. Mereka hanya berbeda cara, bukan kemampuan,” pungkasnya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....