Pahami Likuifaksi untuk Kurangi Risiko Bencana

  • 04 Mar 2026 10:41 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh: Program Dialog Tanggap Bencana RRI Banda Aceh pada Selasa (3/3/2026) mengangkat tema “Mengenal Lebih Dalam Fenomena Likuifaksi” dengan menghadirkan sejumlah pakar geologi dan kebencanaan. Diskusi ini menyoroti pentingnya pemahaman ilmiah serta mitigasi berbasis tata ruang bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa.

Hadir sebagai narasumber Dr. Ir. Bambang Setiawan, ST, M.Eng.Sc., Dosen Program Studi Teknik Geologi serta Wakil Dekan Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Ir. Agus Cahyono Adi, M.T., Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, serta Dr. Adrin Tohari, M.Eng., Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Bambang Setiawan menjelaskan bahwa likuifaksi merupakan fenomena hilangnya kekuatan tanah akibat peningkatan tekanan air pori saat terjadi guncangan gempa. Tanah berbutir, khususnya pasir yang jenuh air, dapat kehilangan daya dukung dan berperilaku menyerupai cairan. “Ketika kontak antarbutir hilang, bangunan di atasnya dapat ambles, miring, bahkan berpindah posisi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa secara umum likuifaksi dipicu oleh gempa dengan magnitudo cukup besar, biasanya di atas 5 skala Richter, meski faktor lokal seperti kondisi geologi, kedalaman muka air tanah, dan sejarah kegempaan setempat turut menentukan tingkat kerentanan.

Adrin Tohari memaparkan hasil riset BRIN yang menunjukkan bahwa wilayah pesisir dengan endapan pasir muda dan muka air tanah dangkal memiliki potensi lebih tinggi mengalami likuifaksi. Ia mencontohkan sejumlah kota di Indonesia yang pernah mencatat kejadian likuifaksi pascagempa.

Menurut Adrin, likuifaksi tidak selalu berbentuk aliran tanah seperti yang terjadi di Palu pada 2018. Fenomena tersebut juga dapat berupa semburan pasir, penurunan tanah, atau pergeseran lateral. “Setiap daerah memiliki karakteristik geologi berbeda sehingga jenis dan dampak likuifaksinya pun tidak sama,” katanya.

Berdasarkan penelitian di Banda Aceh, BRIN menemukan adanya variasi potensi penurunan tanah apabila terjadi likuifaksi. Di beberapa zona tertentu, potensi penurunan tanah dapat mencapai puluhan sentimeter, bergantung pada struktur geologi dan jenis lapisan tanah setempat.

Dr. Ir. Bambang Setiawan, ST, M.Eng.Sc., Dosen Program Studi Teknik Geologi serta Wakil Dekan Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Ir. Agus Cahyono Adi, M.T., Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, serta Dr. Adrin Tohari, M.Eng., Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam Program Dialog Tanggap Bencana RRI Banda Aceh pada Selasa (3/3). Foto : RRI/Lis

Sementara itu, Agus Cahyono Adi menekankan bahwa likuifaksi merupakan hasil interaksi berbagai faktor, bukan semata-mata akibat gempa. Kondisi tanah yang tidak kompak, kejenuhan air tanah, serta tata kelola ruang yang kurang tepat dapat memperbesar risiko. “Karena itu peta kerentanan harus menjadi dasar dalam penyusunan rencana tata ruang dan pembangunan infrastruktur,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam pembangunan di kawasan dengan muka air tanah dangkal dan endapan aluvial. Penggunaan fondasi yang tepat serta pengaturan sistem drainase menjadi bagian dari strategi mitigasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....