Menjaga Keteguhan Ibadah Sepanjang Bulan Suci Ramadan

  • 04 Mar 2026 15:59 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh: Semangat beribadah di awal Ramadan kerap terasa menggebu. Masjid penuh, lantunan Al-Qur’an menggema, dan berbagai amalan sunnah dikerjakan dengan antusias. Namun, menjaga semangat itu agar berubah menjadi keteguhan atau istiqamah hingga akhir Ramadan menjadi tantangan tersendiri.

Hal tersebut disampaikan Tgk. Auliasyah Nurdin, Ak.BA., M.A., anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh, dalam dialog “Mutiara Ramadan” pada program Siereuboh RRI Banda Aceh, Selasa (3/3/2026).

Menurutnya, dalam ajaran Islam, kualitas amal lebih utama daripada kuantitas yang tidak berkelanjutan. “Islam tidak mengajarkan amalan yang banyak tetapi terputus. Yang diajarkan adalah amalan yang sedikit namun istiqamah,” ujarnya.

Ia mencontohkan fenomena yang kerap terjadi di masyarakat: pada sepuluh hari pertama Ramadan, masjid penuh hingga meluber, bahkan panitia menambah tenda untuk menampung jamaah. Namun memasuki pertengahan dan akhir Ramadan, jumlah jamaah perlahan berkurang, padahal sepuluh malam terakhir justru menyimpan keutamaan besar, termasuk malam Lailatulqadar.

Tgk. Auliasyah menjelaskan bahwa istiqamah bukan sekadar konsistensi lahiriah, melainkan keteguhan iman yang menyeluruh. Ia merujuk pada Surah Fussilat ayat 30 yang menegaskan keutamaan orang-orang yang berkata, “Rabbunallah” (Tuhan kami adalah Allah), lalu beristiqamah.

Menurutnya, frasa tersebut menunjukkan pengakuan total—bukan sekadar keyakinan di lisan, tetapi komitmen hidup yang utuh. “Istiqamah memang berat, tetapi janji Allah pasti. Malaikat akan menenangkan mereka yang istiqamah, baik saat sakaratul maut, di alam barzakh, maupun pada hari kebangkitan,” katanya.

Keistimewaan itu, lanjutnya, tidak bisa dibeli dengan harta atau jabatan, melainkan diraih melalui keteguhan dalam ketaatan.

Ia mengibaratkan Ramadan seperti mendaki gunung. Jika seseorang memulai pendakian dengan tenaga yang dihamburkan sekaligus, ia akan kelelahan sebelum sampai puncak. Sebaliknya, pendakian yang stabil dan terukur lebih memungkinkan mencapai tujuan.

“Ramadan itu bukan sehari, tetapi 29 atau 30 hari. Maka ibadah harus dijaga ritmenya,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar umat tidak mendahulukan amalan sunnah sementara kewajiban terabaikan. Salat fardu, misalnya, harus menjadi prioritas sebelum memperbanyak tarawih atau amalan tambahan lainnya.

Mengutip hadis Nabi Muhammad saw., ia menegaskan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meski sedikit.

Dalam dialog tersebut, Tgk. Auliasyah juga menekankan pentingnya menuntut ilmu secara benar dan berguru kepada ulama yang jelas sanad keilmuannya. Di tengah kemudahan akses informasi melalui media sosial dan internet, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan teknologi sebagai satu-satunya rujukan.

“Media bisa menjadi pelengkap, tetapi asas ilmu harus dipelajari dengan guru. Kalau asasnya kuat, kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang keliru,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya memilih lingkungan yang baik. Ketika semangat ibadah melemah, seseorang dianjurkan mencari teman yang rajin dan menghadiri majelis ilmu untuk kembali menguatkan diri.

Menjawab pertanyaan pendengar tentang cara menasihati anggota keluarga yang kurang taat, Tgk. Auliasyah menekankan pentingnya adab dan hikmah. Seorang istri atau anak yang memiliki pemahaman agama lebih baik tetap harus menjaga etika saat mengingatkan suami atau orang tua.

Ia menyarankan pendekatan tidak langsung, seperti meminta bantuan tokoh yang dihormati untuk menasihati, serta memperbanyak doa. “Selain ikhtiar lahir, jangan lupa munajat di malam hari. Hidayah itu milik Allah,” ujarnya.

Terkait kekhawatiran membuka aib saat mencari solusi, ia menjelaskan bahwa tidak semua penyampaian kesalahan termasuk ghibah yang terlarang. Jika bertujuan mencari jalan keluar atau maslahat yang jelas, hal tersebut dibolehkan dalam batas syariat.

Menutup dialog, Tgk. Auliasyah membagikan tiga kiat sederhana untuk menjaga istiqamah di bulan Ramadan:

  1. Tidak berlebihan saat berbuka dan sahur. Ia mengingatkan agar tidak menjadikan Ramadan sebagai ajang “balas dendam” makan berlebihan.

  2. Menjauhi maksiat. Perbuatan dosa, menurutnya, menggelapkan hati dan melemahkan semangat ibadah.

  3. Menjaga kestabilan ibadah. Tidak berlebihan di awal lalu melemah di akhir, tetapi konsisten dalam amalan meski sedikit.

“Yang penting bukan seberapa besar semangat di awal, tetapi bagaimana menjaga keteguhan sampai akhir,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....