Rahasia di Balik Peta Risiko Demensia dari 14 Negara Dunia
- 20 Agt 2026 20:47 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Bayangkan sebuah peta dunia yang menunjukkan siapa yang paling rentan pikun di usia senja. Peta itu kini benar-benar ada, hasil kerja keras tim peneliti lintas negara yang baru saja dipublikasikan di jurnal Lancet Healthy Longevity.
Studi raksasa ini melibatkan lebih dari 214 ribu orang berusia 50 tahun ke atas dari 14 negara dan kawasan. Mulai dari Amerika Serikat, Inggris, Irlandia, beberapa wilayah Eropa, hingga Korea Selatan, Meksiko, Tiongkok, Malaysia, Brasil, dan India, semuanya dibedah datanya secara mendalam.
Tujuannya sederhana namun ambisius: mencari tahu faktor apa saja yang paling sering memicu risiko demensia di berbagai belahan dunia. Selama ini, kebanyakan penelitian soal demensia memang lahir dari negara-negara kaya, sehingga gambaran di negara berkembang jadi kurang lengkap.
Hasilnya cukup mengejutkan sekaligus membuka mata. Tingkat pendidikan rendah, misalnya, ternyata jauh lebih banyak ditemukan di negara berkembang seperti Tiongkok dan India dibanding di Amerika Serikat.
Sebaliknya, urusan berat badan berlebih justru menjadi masalah besar di negara-negara kaya. Warga Amerika Serikat tercatat memiliki angka obesitas tertinggi, sementara Korea Selatan berada di ujung yang berlawanan dengan angka paling rendah.
Menariknya lagi, dua negara Amerika Latin yaitu Meksiko dan Brasil punya kasus hipertensi yang tergolong tinggi. Padahal secara ekonomi, keduanya sejajar dengan negara lain yang justru mencatat angka tekanan darah tinggi lebih rendah.
| Baca juga: Bahaya dan Efek Samping Rosemary |
Di antara semua faktor risiko yang diteliti, ada tiga nama yang paling sering muncul di puncak daftar hampir di semua negara. Pendidikan rendah, tekanan darah tinggi, dan kebiasaan merokok konsisten menjadi momok utama di berbagai konteks sosial dan ekonomi.
Yang tak kalah menarik, penelitian ini juga mengungkap fakta bahwa risiko-risiko itu jarang datang sendirian. Lebih dari separuh responden di semua negara ternyata memiliki setidaknya dua faktor risiko demensia sekaligus.
Bahkan di sebagian besar negara, satu dari lima orang tercatat memiliki empat faktor risiko atau lebih dalam waktu bersamaan. Fenomena ini membuktikan bahwa demensia bukan soal satu penyebab tunggal, melainkan akumulasi berbagai kebiasaan dan kondisi kesehatan.
Uniknya, para peneliti juga menemukan pola pengelompokan risiko yang mirip di berbagai negara meski budaya dan ekonominya jauh berbeda. Ada kelompok risiko seputar jantung dan pembuluh darah, kelompok perilaku berisiko seperti merokok dan alkohol, serta kelompok sosial-sensorik yang mencakup isolasi sosial dan gangguan pendengaran maupun penglihatan.
Soal gender, perbedaan pola juga cukup mencolok antara negara maju dan berkembang. Di negara kaya, pria lebih rentan mengalami masalah jantung, sedangkan di negara berkembang justru perempuan yang mendominasi angka tersebut.
Sementara itu, urusan depresi dan rasa kesepian ternyata menjadi beban yang lebih berat bagi kaum perempuan. Hampir di semua negara yang diteliti, perempuan tercatat lebih rentan mengalami gejala depresi dan isolasi sosial dibanding laki-laki.
Tentu saja, penelitian ini bukan tanpa keterbatasan. Beberapa data yang digunakan sudah agak lawas, dan definisi seperti "isolasi sosial" disederhanakan hanya sebagai kondisi tinggal sendiri, yang belum tentu pas untuk budaya yang terbiasa hidup bersama keluarga besar.
Meski begitu, temuan ini tetap punya nilai penting bagi dunia kesehatan global. Para pembuat kebijakan kini punya bukti kuat bahwa program pencegahan demensia perlu disesuaikan dengan konteks lokal, namun tetap bisa memanfaatkan pola-pola umum yang berlaku lintas negara.
Pada akhirnya, riset ini mengingatkan kita semua bahwa menjaga otak tetap sehat di usia tua bukan cuma soal satu kebiasaan baik. Mengelola tekanan darah, menjaga pendidikan sepanjang hayat, aktif bersosialisasi, dan menghindari rokok bisa jadi kombinasi sederhana namun berdampak besar untuk masa depan yang lebih cerah tanpa pikun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....