Dokter Paru: Asma Tak Bisa Sembuh, tapi Bisa Dikendalikan

  • 08 Jul 2026 10:56 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Asma merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikendalikan sehingga penderitanya tetap bisa menjalani aktivitas normal. Karena itu, penanganan asma berfokus pada pengendalian gejala dan mencegah kekambuhan.

Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Hermina Aceh Besar, Dr. Nurfitriani, mengatakan gejala khas asma umumnya berupa sesak napas yang sering muncul pada malam hari. Kondisi tersebut biasanya diawali dengan rasa berat di dada, batuk, hingga muncul bunyi mengi atau "ngik-ngik" saat bernapas.

"Sesak napas merupakan gejala asma yang paling berat. Sebelumnya biasanya diawali dada terasa berat, batuk, kemudian muncul bunyi mengi atau wheezing," ujar Nurfitriani dalam program Asokaya RRI Pro 4 Banda Aceh, Sabtu 4 Juli 2026.

Ia menjelaskan, apabila serangan asma tidak segera ditangani, penderita dapat mengalami kelelahan otot pernapasan akibat bekerja terlalu keras. Pada kondisi yang sangat berat, hal itu bahkan dapat menyebabkan henti napas atau apnea yang memerlukan penanganan medis darurat.

"Kalau sudah terjadi henti napas, pasien harus segera mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan. Kondisi ini membutuhkan penanganan darurat, termasuk bantuan hidup dasar bila diperlukan," katanya.

Nurfitriani menegaskan, tujuan utama tata laksana asma bukan untuk menyembuhkan penyakit, melainkan mengendalikan kondisi saluran napas agar tetap stabil sehingga penderita dapat hidup produktif.

"Asma tidak bisa disembuhkan karena saluran napasnya memang bersifat hiperesponsif. Yang dilakukan adalah mengontrol agar asmanya menjadi jinak sehingga pasien dapat beraktivitas seperti orang sehat tanpa hambatan," jelasnya.

Ia mengibaratkan saluran napas penderita asma seperti daun putri malu yang sangat sensitif terhadap rangsangan. Sebaliknya, saluran napas orang tanpa asma diibaratkan seperti daun mangga yang tidak mudah bereaksi terhadap gangguan dari luar.

Menurut Nurfitriani, seseorang yang telah didiagnosis menderita asma akan membawa kondisi tersebut seumur hidup. Namun, selama pengobatan dijalankan dengan baik dan pemicu dihindari, gejala dapat dikendalikan.

"Asma adalah kondisi yang menetap. Sekali seseorang terdiagnosis asma, kondisi itu akan tetap ada. Tetapi dengan pengobatan yang tepat, penderita tetap bisa menjalani kehidupan secara normal," ujarnya.

Nurfitriani juga mengingatkan bahwa tidak semua keluhan sesak napas merupakan asma. Sejumlah penyakit lain dapat menimbulkan gejala yang serupa, di antaranya kerusakan saluran napas akibat tuberkulosis (TB) maupun Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

Ia menjelaskan, penderita TB yang telah sembuh masih dapat mengalami gangguan pernapasan akibat kerusakan jaringan paru. Sementara itu, PPOK umumnya terjadi akibat paparan asap rokok atau polusi dalam jangka panjang.

"Sekitar 80 persen penderita PPOK merupakan perokok atau mantan perokok. Gejalanya memang mirip asma, seperti batuk, sesak napas, dan mengi, tetapi mekanisme penyakitnya berbeda," katanya.

Nurfitriani menjelaskan bahwa serangan asma dipicu oleh faktor tertentu yang menyebabkan saluran napas menyempit sementara dan dapat kembali normal setelah pemicu dihindari atau diobati. Berbeda dengan PPOK yang menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan paru akibat paparan kronis, seperti asap rokok, asap pabrik, atau asap pembakaran sampah.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat yang mengalami keluhan sesak napas berulang agar segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan penyebabnya sehingga dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....