Benarkah Asma Tidak Selalu Diturunkan dari Orang Tua ke Anak
- 08 Jul 2026 10:59 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Faktor keturunan memang berperan dalam penyakit asma, namun bukan berarti anak dari penderita asma dipastikan akan mengalami penyakit yang sama. Yang diwariskan adalah kecenderungan atau bakat alergi yang dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk.
Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Hermina Aceh Besar, Dr. Nurfitriani, menjelaskan bahwa asma merupakan kondisi saluran napas yang mengalami peradangan kronis dan bersifat sangat sensitif atau hiperesponsif terhadap berbagai pemicu dari lingkungan.
"Yang diturunkan bukan penyakit asmanya secara langsung, tetapi bakat alerginya. Jadi anak dari orang tua penderita asma belum tentu mengalami asma. Bisa saja alerginya muncul dalam bentuk lain seperti rinitis alergi, konjungtivitis alergi, atau dermatitis atopik," ujar Nurfitriani dalam program Asokaya RRI Pro 4 Banda Aceh, Sabtu (4/7/2026).
Menurutnya, faktor genetik berpengaruh terhadap munculnya bakat alergi. Semakin kuat riwayat alergi dalam keluarga, semakin besar pula peluang seseorang memiliki kecenderungan alergi, meskipun bentuk penyakit yang dialami dapat berbeda.
Nurfitriani mengatakan, asma bukanlah alergi terhadap satu zat tertentu, melainkan kondisi ketika saluran napas bereaksi secara berlebihan terhadap berbagai rangsangan dari luar.
"Asma adalah kondisi saluran napas yang hiperesponsif. Artinya, saluran napas mengalami peradangan kronis dan sangat peka terhadap berbagai pemicu atau trigger yang ada di lingkungan," katanya.
Ia menjelaskan, pemicu serangan asma sangat beragam, mulai dari debu, serbuk sari, asap, hingga perubahan cuaca. Namun, setiap penderita memiliki pemicu yang berbeda sehingga tidak dapat disamaratakan.
"Kalau cuaca dingin membuat satu orang kambuh, belum tentu penderita lainnya juga akan mengalami hal yang sama. Setiap orang memiliki pemicu yang spesifik," jelasnya.
Karena itu, Nurfitriani mengimbau setiap penyandang asma untuk mengenali faktor-faktor yang dapat memicu kekambuhan. Ia mengibaratkan penderita asma harus menjadi "detektif" bagi dirinya sendiri dengan mencatat dan mengidentifikasi penyebab munculnya gejala.
"Setiap penderita harus mengetahui apa saja yang menjadi pemicu asmanya. Dengan mengenali faktor pencetus tersebut, serangan asma dapat dicegah sehingga pengelolaan penyakit menjadi lebih baik," ujarnya.
Ia menambahkan, pengendalian asma tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga pada kemampuan penderita menghindari pemicu yang dapat menyebabkan saluran napas mengalami peradangan dan penyempitan kembali.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....