Vape Ancam Kesehatan Paru dan Masa Depan Generasi Muda

  • 29 Jun 2026 16:49 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh – Popularitas vape atau rokok elektronik terus meningkat, terutama di kalangan remaja. Desain yang modern, pilihan rasa yang beragam, serta anggapan bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional membuat banyak anak muda tertarik mencobanya. Padahal, persepsi tersebut dinilai keliru karena vape tetap mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat merusak kesehatan, terutama paru-paru.

Hal tersebut disampaikan dokter spesialis paru Rumah Sakit Hermina Aceh, dr. Vonna Yunira, Sp.P, dalam Dialog Asokaya Programa 4 RRI Banda Aceh, Sabtu (27/6/2026), bertajuk "Vape: Gaya atau Ancaman".

Menurut dr. Vonna, vape merupakan rokok elektronik yang bekerja dengan memanaskan cairan (e-liquid) hingga menghasilkan aerosol yang kemudian dihirup pengguna. Cairan tersebut mengandung berbagai bahan kimia, seperti propilen glikol, gliserol, nikotin, aldehid, dan partikel halus yang dapat masuk hingga ke bagian terdalam paru-paru.

"Vape bukan sekadar uap air seperti yang banyak dipercaya masyarakat. Aerosol yang dihasilkan mengandung berbagai zat kimia yang dapat menyebabkan cedera paru," ujarnya.

Ia menjelaskan, selain vape berbasis cairan, terdapat pula produk tembakau yang dipanaskan (heated tobacco products). Meski berbeda cara kerja, keduanya sama-sama berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Dr. Vonna menepis anggapan bahwa vape merupakan alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok biasa. Menurutnya, baik rokok konvensional maupun vape memiliki risiko kesehatan yang sama meski melalui mekanisme yang berbeda.

"Rokok konvensional menyebabkan kerusakan akibat proses pembakaran, sedangkan vape menghasilkan partikel yang sangat kecil sehingga dapat masuk hingga ke saluran napas bagian bawah dan memicu peradangan," katanya.

Peradangan tersebut, lanjutnya, dapat berkembang menjadi jaringan parut pada paru-paru yang bersifat permanen atau tidak dapat kembali normal. Kondisi itu mengakibatkan fungsi paru terus menurun seiring waktu.

Ia juga mengingatkan bahwa kandungan propilen glikol dan gliserol memang aman jika dikonsumsi melalui saluran pencernaan, tetapi tidak dirancang untuk dihirup ke saluran pernapasan. Ketika dipanaskan dan masuk ke paru-paru, kedua zat tersebut dapat mengganggu sistem pertahanan alami saluran napas.

Selain itu, nikotin yang terkandung dalam sebagian besar produk vape tetap menjadi penyebab utama ketergantungan. Nikotin merangsang pelepasan dopamin di otak sehingga menimbulkan rasa nyaman sementara, tetapi pada akhirnya membuat pengguna semakin bergantung.

"Walaupun ada produk yang diklaim bebas nikotin, hasil penelitian menunjukkan sebagian di antaranya tetap mengandung nikotin," jelasnya.

Lebih jauh, dr. Vonna mengungkapkan bahwa penggunaan vape juga dikaitkan dengan sejumlah penyakit paru serius. Salah satunya adalah E-cigarette or Vaping Associated Lung Injury (EVALI), yaitu cedera paru akut yang dapat muncul hanya dalam satu hingga dua minggu penggunaan, terutama pada pengguna cairan vape ilegal yang diracik sendiri.

Selain EVALI, terdapat pula risiko popcorn lung disease atau bronchiolitis obliterans. Penyakit ini dipicu oleh senyawa aldehid yang digunakan sebagai pemberi rasa pada cairan vape. Meski aman digunakan dalam makanan, aldehid berbahaya ketika terhirup ke dalam saluran pernapasan.

"Paru-paru menjadi kaku akibat terbentuknya jaringan parut sehingga kemampuan bernapas semakin menurun," katanya.

Dalam jangka panjang, paparan zat-zat kimia tersebut juga diduga meningkatkan risiko kanker paru. Meski penelitian pada manusia masih berlangsung karena membutuhkan waktu puluhan tahun, hasil penelitian pada hewan telah menunjukkan adanya kerusakan DNA yang mengarah pada pembentukan sel kanker.

Tidak hanya paru-paru, vape juga berdampak terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah. Nikotin dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah sehingga memperbesar risiko penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke.

Remaja menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak penggunaan vape. Menurut dr. Vonna, nikotin dapat mengganggu perkembangan otak yang masih berlangsung hingga usia dewasa muda.

"Pada remaja, nikotin dapat menurunkan konsentrasi belajar, daya ingat, hingga fungsi kognitif. Ini tentu berpengaruh terhadap prestasi dan masa depan mereka," ujarnya.

Ia juga menyoroti maraknya promosi vape yang menyasar generasi muda melalui desain produk yang menarik, beragam pilihan rasa, serta promosi oleh influencer di media sosial. Kondisi tersebut dinilai mendorong munculnya perokok baru dari kalangan pelajar.

Tak hanya pengguna aktif, paparan aerosol vape juga berisiko bagi perokok pasif. Anak-anak, ibu hamil, dan penderita asma merupakan kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan akibat menghirup aerosol yang dihembuskan pengguna vape.

Untuk membantu perokok berhenti, dr. Vonna menyarankan pendekatan edukasi, perubahan perilaku, dukungan keluarga, hingga terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy) yang dilakukan di bawah pengawasan tenaga kesehatan.

Menurutnya, terdapat tiga metode berhenti merokok, yakni berhenti secara langsung (cold turkey), mengurangi jumlah konsumsi secara bertahap, atau menunda waktu merokok setiap hari hingga akhirnya berhenti sepenuhnya. Dari ketiga metode tersebut, berhenti secara langsung dinilai memiliki tingkat keberhasilan paling tinggi apabila disertai motivasi yang kuat.

Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mencegah anak mulai menggunakan vape maupun rokok konvensional. Orang tua diharapkan menjadi teladan dengan tidak merokok di hadapan anak serta membangun lingkungan pergaulan yang positif.

"Jangan hanya melarang anak merokok, tetapi orang tua sendiri masih merokok. Anak belajar dari apa yang mereka lihat," katanya.

Menutup dialog, dr. Vonna mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan citra vape sebagai simbol gaya hidup modern.

"Vape bukan sekadar gaya. Ini adalah ancaman bagi kesehatan paru, jantung, otak, dan masa depan generasi muda. Semakin dini seseorang mulai menggunakan vape, semakin besar risiko gangguan kesehatan yang akan dihadapi di masa mendatang," pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....