Rujukan Bermasalah Jadi Faktor Tingginya Kematian Ibu Melahirkan

  • 14 Jun 2026 09:05 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Sistem rujukan pelayanan kesehatan dinilai masih menjadi persoalan serius yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian ibu melahirkan di Indonesia. Proses rujukan yang lambat dan tidak tepat dapat membuat nyawa pasien berada dalam kondisi sangat berisiko.

Pakar Obstetri dan Ginekologi, Prof. Dr. dr. Rajuddin, Sp.OG(K)., Subsp.FER mengatakan, kematian ibu sering kali dikaitkan dengan tenaga kesehatan yang terakhir menangani pasien. Padahal, persoalan utama kerap terjadi sejak awal proses rujukan.

Menurutnya, banyak kasus pasien tiba di rumah sakit rujukan dalam kondisi sudah sangat kritis. Bahkan sebagian pasien meninggal dalam perjalanan sebelum mendapatkan penanganan medis yang memadai.

“Penyebabnya setelah ditelusuri adalah kondisi akut yang sangat sensitif pada menit-menit terakhir saat proses rujukan. Bahkan 78,18 persen kematian terjadi di rumah sakit rujukan,” kata Rajuddin dalam Dialog Klinik Angkasa RRI Banda Aceh, Sabtu, 13 Juni 2026.

Ia menjelaskan, terdapat tiga keterlambatan yang sering terjadi dalam sistem rujukan. Ketiganya adalah terlambat mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan rujukan, dan terlambat mendapatkan penanganan medis.

Rajuddin menilai fasilitas kesehatan harus mengutamakan keselamatan pasien dengan memilih rumah sakit rujukan terdekat yang memiliki kompetensi menangani kasus darurat. Langkah tersebut penting untuk menghindari risiko keterlambatan penanganan.

“Dalam kondisi emergency, pasien harus dibawa ke fasilitas yang paling dekat dan mampu menangani kasus tersebut. Jangan memperpanjang rantai rujukan yang dapat membahayakan nyawa pasien,” ujarnya.

Ia menambahkan, sistem rujukan berjenjang yang tidak mempertimbangkan kompetensi fasilitas kesehatan dapat memperbesar risiko kematian ibu. Karena itu, rujukan harus berdasarkan kemampuan layanan yang tersedia di rumah sakit tujuan.

Rajuddin juga menyoroti pentingnya komunikasi antara tenaga medis, pasien, dan keluarga selama proses pelayanan kesehatan. Menurutnya, edukasi yang baik dapat membantu keluarga mengambil keputusan lebih cepat saat kondisi darurat.

“Informasi kepada pasien dan keluarga harus jelas. Mereka harus mengetahui kondisi, risiko, tujuan tindakan, dan alternatif penanganan yang tersedia,” katanya.

Selain itu, ia meminta pemerintah daerah dan pengelola fasilitas kesehatan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem rujukan. Audit kasus kematian ibu dinilai penting untuk menemukan akar masalah yang selama ini terjadi.

Rajuddin menegaskan perbaikan sistem rujukan merupakan tanggung jawab bersama demi keselamatan ibu dan bayi. Ia berharap seluruh pihak lebih serius membangun sistem pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, dan aman.

“Restrukturisasi sistem rujukan bukan sekadar memenuhi target pelayanan. Ini adalah tanggung jawab moral terhadap keselamatan ibu yang melahirkan dan keselamatan warga,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....