Vaksin dan Pap Smear Bisa Mencegah Kanker Serviks
- 12 Mei 2026 11:05 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO. ID, Banda Aceh – Kanker serviks masih menjadi ancaman serius bagi perempuan, meski penyakit ini sebenarnya termasuk salah satu jenis kanker yang dapat dicegah sejak dini. Hal tersebut disampaikan dr. Meutia Handiny, Sp.OG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi dari RSU Hermina Aceh dalam dialog Asoekaya Programa 4 RRI Banda Aceh, Sabtu 9 Mei 2026.
Dalam dialog tersebut, dr. Meutia menjelaskan bahwa kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini menjadi penyebab utama kanker serviks dan umumnya menular melalui hubungan seksual.
“Ini merupakan satu-satunya kanker yang sudah diketahui penyebabnya oleh virus dan sudah tersedia vaksinnya,” ujar dr. Meutia.
Ia menjelaskan, sekitar 70 persen perempuan yang sudah aktif secara seksual pernah terinfeksi HPV. Namun, hanya sebagian kecil yang berkembang menjadi kanker serviks karena tubuh masih memiliki sistem imun yang dapat melawan infeksi tersebut.
| Baca juga: Manfaat Bengkoang untuk Kesehatan |
Menurutnya, vaksin HPV menjadi langkah paling efektif untuk menurunkan risiko kanker serviks. Saat ini, program vaksinasi bahkan sudah mulai diberikan kepada anak perempuan sejak usia sembilan tahun sebagai upaya pencegahan dini.
Selain vaksinasi, deteksi dini juga menjadi langkah penting untuk mencegah kanker berkembang ke stadium lanjut. Pemeriksaan IVA dan pap smear disebut sebagai metode yang efektif untuk menemukan kelainan pada serviks sebelum berubah menjadi kanker.
“Kalau ditemukan lebih awal, penanganannya jauh lebih baik dan peluang sembuh juga lebih besar,” katanya.

Dr. Meutia menyebutkan gejala awal kanker serviks sering kali tidak disadari. Salah satu tanda yang perlu diwaspadai ialah keputihan abnormal, seperti berbau, gatal, berwarna kehijauan atau kekuningan, serta perdarahan setelah berhubungan intim.
Ia menegaskan bahwa tidak semua keputihan bersifat normal. Karena itu, perempuan dianjurkan segera memeriksakan diri apabila mengalami perubahan pada kondisi keputihan.
Dalam dialog tersebut, ia juga mengingatkan bahwa faktor risiko kanker serviks meningkat pada perempuan yang menikah di usia terlalu muda, memiliki pasangan seksual lebih dari satu, atau memiliki pasangan yang berganti-ganti pasangan.
“Menikah usia terlalu muda membuat organ reproduksi belum siap dan lebih rentan terhadap infeksi virus,” ujarnya.
Selain perempuan, laki-laki juga dapat menjadi pembawa virus HPV meski tidak memiliki serviks. Pada laki-laki, infeksi HPV tertentu dapat menyebabkan kutil kelamin.
Karena itu, dr. Meutia menilai kesetiaan terhadap pasangan menjadi salah satu cara penting dalam menurunkan risiko penularan HPV.
Ia juga menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan reproduksi. Menurutnya, rasa malu, ketakutan, hingga faktor budaya menjadi hambatan perempuan untuk melakukan pemeriksaan IVA maupun pap smear.
Padahal, pemeriksaan IVA sudah tersedia secara gratis di puskesmas. Namun, minat masyarakat untuk melakukan deteksi dini masih tergolong rendah.
“Padahal kanker serviks berkembang dalam waktu lama. Kita punya kesempatan bertahun-tahun untuk mendeteksinya lebih awal,” kata dr. Meutia.
Ia menambahkan, apabila kanker sudah memasuki stadium lanjut, penanganannya menjadi lebih kompleks. Pada kondisi tertentu, pasien bahkan harus menjalani pengangkatan rahim untuk mencegah penyebaran kanker.
dr. Meutia mengajak masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan reproduksi dan tidak takut melakukan pemeriksaan dini. “Kesehatan jauh lebih mahal. Jangan tunggu sakit parah baru memeriksakan diri,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....