Penyuluh Agama Kota Banda Aceh Kenalkan Eco Enzyme kepada Siswa Sekolah

  • 31 Agt 2026 21:46 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Penyuluh Agama Islam Kota Banda Aceh terus memperluas peran edukatifnya dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan. Melalui Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Banda Aceh, para penyuluh mengenalkan ekoteologi dan pengelolaan sampah melalui praktik pembuatan eco enzyme kepada lebih dari 100 siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 9 Kota Banda Aceh, Jumat 29 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut diikuti seluruh siswa kelas 5 dan satu kelas siswa kelas 6. Edukasi tidak hanya diberikan melalui penyampaian materi, tetapi juga dilanjutkan dengan praktik langsung pemilahan sampah organik dan pengenalan bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan untuk membuat eco enzyme.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Penyuluh Agama Islam Kota Banda Aceh menghadirkan nilai-nilai keagamaan dalam bentuk aksi nyata. Pesan tentang menjaga kebersihan dan kelestarian alam diarahkan menjadi kebiasaan yang dapat dilakukan sejak lingkungan madrasah hingga keluarga.

Sekretaris IPARI Kota Banda Aceh sekaligus praktisi eco enzyme, Hj. Supiati, S.Ag., M.Sos., yang memimpin penyuluhan dan praktik, mengajak para siswa melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda.

Menurutnya, tidak semua yang disebut sampah harus berakhir di tempat pembuangan. Sampah organik, seperti kulit buah dan sisa bahan organik rumah tangga, dapat dipilah dan dimanfaatkan kembali dengan pengelolaan yang tepat.

“Harapan kita, anak-anak yang hari ini belajar membuat eco enzyme tidak hanya berhenti sampai di sini. Mereka bisa membawa pengetahuan ini ke rumah dan memberikan edukasi kepada orang tua bahwa sampah ternyata memiliki manfaat apabila kita mampu memilah dan mengelolanya,” ujar Supiati.

Ia menegaskan, keterlibatan anak-anak dalam edukasi lingkungan memiliki dampak strategis karena mereka dapat menjadi penggerak perubahan di lingkungan keluarga.

“Kalau satu anak membawa pengetahuan ini ke rumah, kemudian mengajak orang tuanya memilah sampah, maka satu kegiatan di madrasah bisa memberikan dampak yang lebih luas,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, lebih dari 100 siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing terdiri atas sekitar enam orang. Pola tersebut diterapkan agar siswa dapat mengikuti proses penyuluhan dan praktik secara lebih aktif.

Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan, terutama ketika diperkenalkan dengan pemanfaatan kulit buah dan bahan organik yang selama ini identik dengan sampah. Mereka juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya.

Kepala MIN 9 Kota Banda Aceh, Hj. Syukriani, S.Pd.I., M.Pd., menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai edukasi lingkungan sangat penting diberikan kepada siswa sejak dini karena dapat membentuk kebiasaan dan karakter peduli terhadap lingkungan.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya membentuk kemampuan akademik siswa, tetapi juga membangun kepedulian terhadap lingkungan tempat mereka hidup.

“Pengetahuan seperti ini sangat bermanfaat bagi anak-anak. Mereka tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga belajar secara langsung bagaimana mengelola lingkungan dengan baik,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....