Generasi Muda Harus Kritis Menghadapi Pengaruh Media
- 27 Agt 2026 16:45 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO. ID, Banda Aceh - Lingkungan sekitar dan media sosial memiliki pengaruh kuat dalam membentuk cara berpikir, perilaku, hingga keputusan seseorang. Pengaruh tersebut menjadi pembahasan dalam program siaran CCK (Cek Cerita Kamu) Programa 2 RRI Banda Aceh, Senin (24/8/2026), dengan menghadirkan Jamalul, Program Turun Tangan Aceh, dan Qareeen Zickrina Alfaryza Nst, Public Relations Turun Tangan Aceh.
Jamalul mengatakan, cara berpikir seseorang tidak terbentuk secara mandiri, melainkan dipengaruhi berbagai lingkungan yang berinteraksi dengannya. Keluarga, pertemanan, pendidikan, pekerjaan, hingga komunitas menjadi bagian yang dapat membentuk pola pikir seseorang.
Menurutnya, pengaruh lingkungan tersebut semakin kompleks dengan hadirnya media sosial. Berbagai platform digital memungkinkan seseorang melihat kehidupan, pencapaian, dan aktivitas orang lain secara terus-menerus.
“Sekali scroll berbeda. Kita bisa melihat diri orang lain dalam versi yang mungkin sangat menarik,” ujar Jamalul.
Kondisi tersebut dapat memunculkan tekanan ketika seseorang mulai membandingkan kehidupannya dengan apa yang dilihat di media sosial. Padahal, menurut Jamalul, setiap orang memiliki perjalanan hidup, latar belakang, dan proses yang berbeda.
Ia juga menyoroti sistem algoritma media sosial yang cenderung menghadirkan kembali konten sesuai dengan apa yang sering dilihat, dicari, atau disukai pengguna. Apabila seseorang terbiasa mengonsumsi konten negatif, algoritma dapat terus menyajikan konten serupa sehingga pengguna semakin sulit keluar dari pola konsumsi tersebut.
Karena itu, Jamalul menilai kesadaran diri menjadi langkah awal dalam menghadapi pengaruh lingkungan dan media sosial. Seseorang perlu memahami tujuan hidup, mengenali kelebihan dan kekurangan, serta mengevaluasi lingkungan yang membangun maupun yang justru memberikan pengaruh negatif.
Ia menyarankan pengguna media sosial mengambil jeda apabila merasa penggunaan media sosial mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Waktu tersebut dapat dialihkan untuk kegiatan yang lebih produktif, termasuk bergabung dengan organisasi, komunitas, maupun aktivitas sosial.
Jamalul juga mengingatkan generasi muda agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial. Informasi yang terlihat menarik dan cepat viral belum tentu benar sehingga perlu dilakukan pemeriksaan terhadap sumber dan membandingkannya dengan informasi dari sumber lain.
Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga membuat masyarakat harus semakin kritis. Konten yang dibuat atau dimodifikasi menggunakan teknologi AI dapat terlihat meyakinkan sehingga pengguna perlu memastikan kebenarannya sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Selain itu, fenomena FOMO (fear of missing out) atau rasa takut tertinggal tren juga perlu disikapi secara bijak. Jamalul menilai mengikuti tren tidak selalu buruk selama memberikan manfaat dan tidak bertentangan dengan kemampuan pribadi maupun norma yang berlaku.
Dalam konteks Aceh, ia mengingatkan generasi muda untuk tetap mempertimbangkan nilai agama, budaya, adat, dan norma sosial dalam menyikapi berbagai tren yang berkembang di media sosial.
Sementara itu, Qareeen Zickrina Alfaryza Nst atau Karin mengatakan, media sosial memang menjadi bagian yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Menurutnya, media sosial dapat memberikan pengaruh positif apabila digunakan untuk mendapatkan motivasi, pengetahuan, membangun jejaring, maupun mengembangkan produktivitas.
Karin mengakui, dirinya juga pernah merasakan pengaruh media sosial ketika melihat pencapaian orang lain. Unggahan tersebut terkadang membuat seseorang berpikir bahwa dirinya harus mampu mencapai hal yang sama.
Namun, ia memilih mengambil jeda ketika penggunaan media sosial mulai menimbulkan rasa tidak percaya diri atau kelelahan mental. Karin biasanya mengurangi aktivitas di media sosial dan mengalihkan perhatian kepada kegiatan lain yang lebih bermanfaat.

Menurut Karin, organisasi dan komunitas menjadi salah satu lingkungan yang membantu dirinya berkembang. Bergabung dengan Turun Tangan Aceh membuatnya bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan kemampuan.
Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa setiap orang memiliki karakter, kemampuan, dan perjalanan yang berbeda. Interaksi langsung dengan lingkungan juga membantunya mengembangkan keberanian berbicara di depan umum, menjadi pemateri, hingga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial.
Karin juga menilai generasi muda perlu selektif dalam memilih lingkungan pertemanan maupun konten yang dikonsumsi. Menurutnya, tidak semua hal yang muncul di media sosial harus diikuti.
Ia menyarankan agar pengguna memahami terlebih dahulu apa yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan dirinya. Media sosial tetap dapat digunakan, tetapi harus disertai kemampuan memilih konten yang memberikan manfaat.
Terkait informasi dan berita di media sosial, Karin menekankan pentingnya melakukan cross-check atau pemeriksaan ulang. Pengguna tidak seharusnya langsung mempercayai informasi hanya karena disampaikan oleh akun dengan banyak pengikut atau dikemas dalam judul yang menarik.
Ia mengingatkan adanya konten clickbait yang menggunakan judul menarik, tetapi isi informasinya tidak selalu sesuai dengan apa yang ditampilkan pada judul. Karena itu, masyarakat perlu membaca informasi secara utuh dan mencari sumber pembanding.
Baik Jamalul maupun Karin sepakat bahwa masyarakat tidak mungkin sepenuhnya terlepas dari media sosial di tengah perkembangan teknologi digital. Namun, pengguna tetap memiliki kendali untuk menentukan bagaimana merespons informasi dan konten yang diterima.
Media sosial, menurut keduanya, sebaiknya diposisikan sebagai alat untuk mendukung kehidupan, bukan sebagai sesuatu yang mengendalikan kehidupan. Keseimbangan antara aktivitas digital, lingkungan nyata, organisasi, komunitas, dan kehidupan sosial menjadi penting agar generasi muda tetap mampu berpikir kritis serta mengenali dirinya sendiri.
Melalui dialog CCK RRI Banda Aceh tersebut, generasi muda diajak untuk tidak sekadar mengikuti apa yang sedang viral, tetapi mampu menyaring informasi, memilih lingkungan yang sehat, mengatur penggunaan media sosial, dan tetap berpegang pada nilai serta tujuan pribadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....