Kampus Dorong Karya Siswa Disabilitas Aceh Tembus Pasar Global
- 07 Jul 2026 04:24 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh: Perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga dapat menjadi penggerak lahirnya peluang ekonomi baru bagi penyandang disabilitas. Melalui kolaborasi lintas negara, karya sederhana yang lahir dari tangan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) kini diarahkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual hingga berpeluang memasuki pasar global.
Dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Zulfikar Takqyudin, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari pengabdian masyarakat internasional yang melibatkan Chulalongkorn University Thailand untuk mendampingi siswa disabilitas menghasilkan karya kreatif. Menurut Zulfikar, selama ini banyak siswa disabilitas memiliki kemampuan menggambar, membatik, menjahit hingga membuat kerajinan tangan yang sangat baik, namun belum memiliki akses menuju dunia kerja maupun pasar.
"Mereka punya banyak kemampuan yang luar biasa. Mereka bisa menggambar, bisa membatik, bisa menjahit dan sebagainya, tetapi hanya sebatas tugas di sekolah," ujar Zulfikar saat diwawancarai RRI dalam program Dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi, Minggu, 5 Juli 2026.
Ia menilai, potensi tersebut perlu diarahkan agar menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya Aceh. Berbagai motif khas daerah seperti pucuk rebung, ornamen pintu Aceh, hingga ragam hias tradisional dipadukan dengan desain modern agar mampu menarik minat wisatawan tanpa kehilangan ciri khas daerah.
Zulfikar menjelaskan produk yang dikembangkan tidak harus rumit, melainkan sederhana, fungsional, dan mudah dibawa sebagai cendera mata. "Kita bukan menjual karyanya saja, tetapi value atau nilai dari produk yang mereka buat," katanya, seraya menambahkan bahwa pembatas buku, gantungan kunci, alas gelas, hingga dekorasi interior memiliki peluang besar untuk dipasarkan kepada wisatawan.
Selain membangun kemampuan teknis, program tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan rasa percaya diri siswa disabilitas agar lebih siap memasuki dunia industri kreatif. Kerja sama dengan akademisi Thailand turut memberikan masukan mengenai pengembangan desain, pendampingan komunitas, serta strategi agar produk lokal dapat berkembang secara bertahap menuju pasar yang lebih luas.
Zulfikar berharap semakin banyak pemerintah daerah, pelaku usaha, maupun masyarakat yang ikut mendukung program serupa sehingga karya siswa disabilitas tidak lagi berhenti di ruang kelas. Ia menegaskan bahwa ketika kreativitas dipadukan dengan pendampingan yang tepat, karya anak-anak istimewa bukan hanya menjadi kebanggaan sekolah, tetapi juga mampu menjadi produk unggulan Aceh yang membawa manfaat ekonomi sekaligus memperkuat semangat inklusi di tengah masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....