Alubu Food Perkenalkan Kuliner Aceh lewat Bumbu Instan

  • 06 Okt 2026 23:44 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh - Cita rasa masakan Aceh tidak hanya dapat dinikmati di dapur rumah atau warung makan. Alubu Food mengembangkan bumbu masakan khas Aceh dalam bentuk instan untuk memudahkan masyarakat menikmati kuliner Aceh sekaligus memperkenalkannya ke pasar yang lebih luas.

CEO Alubu Food, Mauriska Amalia, mengatakan produk tersebut lahir dari keinginan untuk menghadirkan masakan khas Aceh dalam bentuk yang lebih praktis. Menurutnya, bumbu instan Alubu Food dapat menjadi pilihan bagi masyarakat Aceh yang tinggal di luar daerah maupun konsumen dari luar Aceh yang ingin mencoba masakan khas Aceh.

“Bukan hanya menjual produk untuk mencari keuntungan sendiri, tetapi kami menciptakan produk masakan Aceh untuk memperkenalkan kuliner Aceh kepada masyarakat yang lebih luas,” kata Mauriska dalam program UMKM Talks Programa 1 RRI Banda Aceh, Senin (5/10/2026).

Alubu Food saat ini memproduksi sejumlah bumbu masakan khas Aceh, di antaranya bumbu mie Aceh, ayam tangkap dan nasi minyak. Untuk bumbu mie Aceh, tersedia varian original dan pedas.

Mauriska menjelaskan, tantangan utama dalam membuat bumbu instan adalah mempertahankan cita rasa autentik. Karena itu, proses peracikan tidak hanya mengejar kepraktisan, tetapi juga mempertahankan aroma dan kekuatan rempah yang menjadi ciri khas masakan Aceh.

“Walaupun produk bumbu mie instan, kami tetap meningkatkan aroma dari segi bumbunya sendiri,” ujarnya.

Kepraktisan menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan Alubu Food. Konsumen tidak perlu menyiapkan dan menakar berbagai jenis rempah secara terpisah. Petunjuk bahan tambahan, langkah memasak hingga takaran porsi telah dicantumkan pada kemasan.

Konsep tersebut juga menyasar masyarakat yang belum terbiasa memasak. Mauriska menyebut bumbu instan dapat membantu konsumen menghemat waktu, termasuk ibu rumah tangga yang bekerja dan memiliki keterbatasan waktu untuk menyiapkan makanan.

Bumbu mie Aceh menjadi produk yang paling banyak diminati. Selain dapat digunakan untuk memasak mie Aceh, bumbu tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mie instan dan nasi goreng.

Salah satu produk yang memiliki proses pengembangan cukup panjang adalah bumbu nasi minyak. Mauriska mengatakan, produk tersebut menggunakan sekitar 11 komponen rempah, antara lain kapulaga, jintan, bunga lawang dan kaskas. Perpaduan rempah tersebut dirancang untuk menghasilkan aroma khas nasi minyak Aceh.

Untuk menjaga kualitas, pemilihan bahan baku masih dilakukan langsung oleh Mauriska. Bahan seperti bawang, cabai dan rempah dipastikan dalam kondisi baik sebelum masuk proses produksi. Proses pengolahan bumbu juga membutuhkan waktu hingga 10 jam dan dilakukan secara konsisten untuk menjaga kualitas produk.

CEO Alubu Food, Mauriska Amalia, dalam program UMKM Talks Programa 1 RRI Banda Aceh, Senin (5/10). Foto : RRI/Lis

Alubu Food berdiri sejak 2023. Selama hampir empat tahun, salah satu tantangan yang dihadapi adalah mempertahankan kualitas dan daya simpan produk. Mauriska menyebut produk dapat bertahan hingga delapan bulan apabila proses pengolahan dan kebersihan bahan baku dilakukan dengan baik.

Dari sisi pemasaran, Alubu Food mulai memperkuat strategi digital. Selain mengandalkan penjualan secara langsung, perusahaan menggandeng konten kreator kuliner melalui kerja sama kolaborasi dan sistem afiliasi. Strategi tersebut diarahkan untuk memperluas pasar hingga tingkat nasional.

Saat ini, produk Alubu Food telah tersedia di sejumlah toko oleh-oleh dan toko modern di Banda Aceh. Produk tersebut juga dipasarkan melalui sejumlah marketplace. Bahkan, permintaan datang dari masyarakat Aceh yang tinggal di luar negeri dan menitipkan produk melalui perjalanan umrah maupun jaringan perjalanan lainnya.

Ke depan, Alubu Food berencana menambah varian bumbu dari berbagai masakan khas Aceh. Mauriska menyebut kuah beulangong menjadi salah satu produk yang berpotensi dikembangkan dalam bentuk bumbu instan.

Menurut Mauriska, kuliner Aceh memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk UMKM yang mampu menjangkau pasar nasional hingga mancanegara. Kekayaan rempah dan beragamnya makanan khas Aceh menjadi modal untuk menciptakan produk bernilai ekonomi.

Ia juga mengajak generasi muda Aceh tidak ragu memulai usaha berbasis potensi lokal. Menurutnya, sebuah produk tidak harus langsung besar untuk memiliki nilai ekonomi. Konsistensi dan keberanian memulai menjadi bagian penting dalam membangun usaha.

“Jangan malu untuk memulai dan konsisten,” kata Mauriska.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....