Pengrajin SIOEN IJA Aceh yang Terus Berinovasi

  • 11 Mei 2026 20:24 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID Banda Aceh – Batasan kreativitas hanya ada di pikiran. Hal itu dibuktikan Kelompok Perajin (KLP) SIOEN IJA Aceh yang terus berinovasi mengolah kekayaan alam menjadi produk kriya bernilai tinggi. Ketua KLP SIOEN IJA, Nurul Fahmi, mengatakan kelompoknya konsisten mengangkat potensi pewarna alam khas Aceh lewat teknik ecoprint dan tenun tradisional.

"Nama SIOEN IJA kami ambil dari bahasa Aceh. Sioen artinya hijau. Filosofinya, kami ingin semua karya tetap hijau, ramah lingkungan, dan berkelanjutan," ujar Nurul Fahmi dalam perbincangan bersama RRI, Senin 4 Mei 2026

Menurut Nurul tantangan terbesar perajin saat ini adalah menjembatani motif tradisional dengan selera pasar modern. SIOEN IJA menjawabnya dengan memadukan motif Pintu Aceh, Pucuk Rebung, hingga flora endemik Aceh ke dalam produk kekinian seperti totebag, syal, hijab, dan home decor.

"Daun jati, kulit mahoni, kunyit, sampai limbah dapur bisa jadi warna. Kreativitas tanpa batas itu ketika kita berani melihat bahan sekitar sebagai peluang, bukan sampah," tegasnya.

KLP SIOEN IJA kini membina puluhan perempuan dan anak muda di Banda Aceh dan Aceh Besar. Selain produksi, mereka rutin menggelar pelatihan ecoprint untuk siswa, mahasiswa, dan komunitas.

"Kami ingin regenerasi. Jangan sampai ilmu pewarna alam ini hilang. Anak muda Aceh harus bangga pakai produk dari tanah sendiri," tambah Nurul

Berkat konsistensi, produk SIOEN IJA sudah masuk ke pameran kriya nasional, galeri UMKM, dan platform online. Beberapa koleksi bahkan diminati pembeli dari luar Aceh karena keunikan motif dan konsep zero waste-nya.

Nurul berharap pemerintah dan masyarakat makin mendukung produk lokal berbasis kearifan alam. "Kalau alam Aceh sudah kasih warna, tugas kita merangkainya jadi karya. Itu makna kreativitas tanpa batas yang sebenarnya," tutupnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....