Tinggalkan Pekerjaan, Akhyar Sukses Bangun Bisnis Okare dari Nol
- 08 Jul 2026 10:58 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Keputusan meninggalkan pekerjaan tetap bukanlah langkah mudah. Namun, bagi Akhyar Yusri, keberanian mengambil risiko justru menjadi titik awal lahirnya Okare, sebuah usaha roti kari Jepang yang kini mulai dikenal masyarakat Banda Aceh.
Di balik kesuksesan Okare, tersimpan perjalanan panjang yang tidak instan. Produk tersebut merupakan hasil riset selama bertahun-tahun sebelum akhirnya resmi dipasarkan di Banda Aceh pada Oktober 2025.
"Produk ini sebenarnya sudah kami riset cukup lama. Tahun 2022 sudah melewati uji pasar dan beberapa kali mengalami penyesuaian sesuai kebutuhan konsumen. Baru kemudian kami resmi membuka usaha di Banda Aceh pada Oktober 2025," ujar Akhyar Yusri saat berbincang dalam program UMKM Talk RRI Banda Aceh, Senin (6/7/2026).
Menurut Akhyar, perjalanan membangun usaha dimulai dengan langkah sederhana. Bersama sang istri, ia memutuskan memulai bisnis dari rumah setelah memilih keluar dari pekerjaannya.
"Awalnya kami sama-sama berinisiatif memulai dari kecil. Saat itu saya keluar dari pekerjaan, lalu kami memulai dengan modal keyakinan dan semangat. Bismillah, Alhamdulillah sampai hari ini masih terus berjalan," katanya.
Okare menawarkan roti goreng dengan isian kari sayuran yang menjadi pembeda dari produk sejenis. Konsep tersebut dipilih setelah melalui berbagai eksperimen untuk menemukan cita rasa yang sesuai dengan selera masyarakat.
Sebelumnya, pada tahap awal pengembangan produk, Okare menggunakan isian kari kambing dan daging lada hitam. Namun harga jual yang relatif tinggi membuat respons pasar belum sesuai harapan.
"Waktu itu ukuran rotinya lebih besar dan isiannya daging kambing. Karena biaya produksinya tinggi, harga jual juga tidak bisa murah. Respons pasar belum maksimal, sehingga kami meramu ulang produknya," jelasnya.
Perubahan besar kemudian dilakukan dengan mengganti isian menjadi pasta kari berbahan dasar sayuran. Meski tanpa daging, cita rasa kari tetap dipertahankan sehingga harga menjadi lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas.
Sebelum dipasarkan secara luas, Akhyar menjadikan keluarganya sebagai penguji pertama. Anak-anaknya menjadi "panelis" yang memberikan penilaian terhadap rasa, terutama memastikan produk tidak terlalu pedas sehingga dapat dinikmati semua kalangan.
"Kalau anak-anak bilang enak dan mau makan lagi, berarti produk itu layak kami lanjutkan. Mereka menjadi penguji pertama sebelum kami pasarkan," ujarnya sambil tersenyum.
Baginya, indikator keberhasilan usaha bukan hanya meningkatnya jumlah pembeli baru, melainkan banyaknya pelanggan yang kembali membeli. "Yang kami lihat adalah repeat order. Alhamdulillah, setelah orang mencoba, banyak yang kembali membeli. Itu menjadi tanda bahwa produk kami diterima," katanya.
Meski kini usahanya mulai berkembang, Akhyar mengakui membangun bisnis kuliner membutuhkan investasi yang tidak sedikit, terutama pada peralatan produksi. "Kalau kami saat memulai, sebagian besar peralatan sudah dimiliki sejak lama. Tetapi bagi siapa pun yang ingin masuk ke dunia baking, investasi terbesar memang ada pada peralatannya," ungkapnya.
Lebih dari sekadar mencari keuntungan, Akhyar memiliki filosofi tersendiri dalam menjalankan bisnis kuliner. Ia meyakini makanan mampu menghadirkan kenangan yang tidak terlupakan bagi setiap orang.
Menurutnya, inspirasi tersebut muncul ketika menyaksikan sebuah kisah yang memperlihatkan seseorang menangis haru setelah mencicipi masakan ibunya yang telah lama tidak ditemui. Pengalaman itu membuatnya percaya bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga mampu membangkitkan memori dan emosi.
Ia juga mengenang sosok neneknya yang memiliki kepekaan luar biasa dalam menilai cita rasa masakan. Bahkan resep-resep keluarga yang diwariskan sang nenek kini menjadi kenangan berharga yang terus hidup melalui setiap hidangan.
"Bagi saya, makanan bukan hanya membuat kenyang. Sebuah produk kuliner bisa menghadirkan kembali kenangan, membangun kebersamaan, bahkan menghidupkan memori tentang orang-orang yang kita cintai. Karena itu kami ingin setiap produk yang kami buat menjadi pengalaman indah yang selalu ingin diulang," tutup Akhyar.
Apabila ditujukan untuk RRI.co.id, berita ini juga dapat disesuaikan dengan gaya penulisan RRI yang lebih lugas, menggunakan pola piramida terbalik dan panjang sekitar 500–700 kata.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....