Desain Ekonomi Inklusif Harus Prioritaskan Sektor UMKM

  • 03 Okt 2025 02:39 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh : Tantangan utama dalam mendesain program ekonomi pembangunan yang inklusif adalah menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat miskin. Penduduk berpendapatan rendah memerlukan akses langsung terhadap sumber penghidupan yang nyata.

"Lapangan kerja menjadi aspek penting karena mayoritas masyarakat miskin memiliki keterampilan terbatas. Oleh karena itu, sektor yang paling relevan dan dekat dengan mereka adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)," ujar Dr. Sri Wahyuni, S.E., M.Si,CDM, Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Almuslim, saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif bersama RRI, Rabu (1/10/2025).

Baca Juga : Membangun Masa Depan UMKM Berbasis Komunitas

Menurut Sri Wahyuni, UMKM terbukti menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, khususnya tenaga kerja dengan keterampilan rendah. Ini menjadikan UMKM sebagai pilar penting dalam upaya pengentasan kemiskinan secara bertahap.

Dr. Sri Wahyuni, S.E., M.Si,CDM, Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Almuslim, (Foto : Kanan) saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif bersama RRI Banda Aceh ,Kamis (2/10/2025), yang dipandu host Amad Muharso.

Disebutkannya, meskipun pertumbuhan UMKM tidak secepat sektor formal lainnya, kontribusinya terhadap masyarakat miskin sangat signifikan. UMKM mampu menjadi penyangga ekonomi bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah.

“Kalau kita mau bicara soal menghapus kemiskinan, itu butuh waktu yang sangat lama. Namun, pengurangan kemiskinan tetap memungkinkan melalui strategi yang tepat sasaran," sebutnya.

Salah satunya adalah dengan memperbanyak dan memperkuat UMKM yang berorientasi pada padat karya. Artinya, UMKM yang mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal harus diprioritaskan dalam perencanaan pembangunan ekonomi.

Desain program pemberdayaan UMKM harus fokus pada akses permodalan, pelatihan, dan pendampingan usaha. Tanpa itu, UMKM akan kesulitan berkembang dan gagal menyerap tenaga kerja secara maksimal.

Selain itu, sinergi antara pemerintah, swasta, dan komunitas lokal diperlukan agar UMKM bisa tumbuh secara berkelanjutan. UMKM bukan hanya instrumen ekonomi, tapi juga alat pemerataan sosial.

Dengan strategi yang tepat, UMKM akan menjadi tulang punggung ekonomi rakyat sekaligus jalan keluar dari jebakan kemiskinan struktural. Ekonomi inklusif tidak cukup hanya tumbuh, tapi harus menjangkau yang paling bawah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....