Pispy: Camilan Khas Aceh Tembus Pasar Nasional

  • 06 Agt 2025 12:08 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN – Banda Aceh : Bermula dari krisis pandemi COVID-19, Helmi Syahputra, pemuda Aceh yang dikenal sebagai owner Snack Section, berhasil menciptakan inovasi camilan bernama Pispy, keripik pisang khas Aceh yang kini mulai menembus pasar nasional hingga internasional.

Dalam siaran UMKM Talks Pro 1 RRI Banda Aceh, Senin (4/8/2025), Helmi menceritakan awal mula tercetusnya ide Pispy. Di tengah masa sulit akibat pembatasan aktivitas saat pandemi, ia melihat peluang dari pisang sale, makanan tradisional Aceh yang dijajakan istrinya sebagai usaha sampingan.

"Saya coba jualan lewat WhatsApp, ternyata banyak yang tertarik. Dari situ saya berpikir, produk ini layak diangkat dengan kemasan yang lebih modern," ungkap Helmi.

Berbeda dengan pisang sale tradisional yang diasap dan memiliki tekstur lembek, Pispy dikembangkan melalui proses penjemuran alami, tanpa bahan pengawet maupun pemanis buatan. Dengan tekstur renyah dan rasa autentik buah pisang, Pispy menyasar konsumen muda yang menginginkan camilan sehat dan khas daerah.

"Kami ingin hadirkan produk lokal yang tidak kalah dari camilan luar. Uniknya, Pispy bisa bertahan hingga dua bulan tanpa pengawet, berkat proses alami yang kami kembangkan," jelas Helmi.

Tak hanya soal rasa, Helmi juga memperhatikan aspek visual dan branding. Desain kemasan Pispy digarap secara profesional agar mampu menarik minat pembeli pada pandangan pertama. Menurutnya, visual yang menarik dapat menjadi pembuka jalan sebelum konsumen merasakan kualitas rasa.

Perjalanan Pispy tidak selalu mulus. Tantangan modal, distribusi, dan keterbatasan daya tahan produk menjadi tantangan besar dalam pengembangan usaha. Namun, dengan prinsip kejujuran dan konsistensi menjaga kualitas, Snack Section perlahan dikenal luas, bahkan pernah dibawa sebagai oleh-oleh khas Aceh ke Batam, Singapura, dan Jakarta.

"Kami tidak ingin sekadar menjual makanan. Tapi juga membawa cerita dan rasa khas Aceh ke meja-meja di luar sana," ujarnya penuh semangat.

Helmi menegaskan bahwa 50 persen kemajuan produknya berasal dari masukan konsumen. Ia aktif mendengar kritik dan saran yang kemudian dijadikan bahan inovasi untuk pengembangan produk ke depan, termasuk varian rasa baru seperti cokelat dan teh hijau.

Dengan semangat pantang menyerah, Pispy kini menjadi simbol kebangkitan UMKM Aceh dari keterbatasan menuju keberhasilan. Helmi pun berharap lebih banyak generasi muda yang berani memulai usaha lokal dengan nilai-nilai kearifan budaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....