Kenduri Sastra Aceh 2026 Gaet Generasi Muda
- 28 Sep 2026 22:20 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Kenduri Sastra Aceh 2026 menghadirkan sejumlah workshop dan diskusi untuk mengenalkan sastra Aceh kepada generasi muda. Materinya mencakup karya kontemporer hingga sastra kitab abad ke-16.
Kegiatan dibuka dengan workshop menulis cerpen bersama Ida Fitria pada Sabtu 12 September 2026 di Sophie’s Sunset Library Lhoknga, Aceh Besar. Ia penulis cerpen dan novel asal Bireuen. Pada 2023, Ida meraih juara ketiga Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta. Tahun lalu, karyanya masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa.
Workshop ini diikuti lebih dari 40 peserta. Ida membagikan pengalamannya menulis cerpen hingga karyanya terbit dan berprestasi di tingkat nasional. Ia berharap kegiatan ini memantik minat generasi muda Aceh untuk menulis cerpen yang dikenal luas.
“Saya sangat berharap kegiatan ini dapat menjadi pemantik bagi peserta khususnya generasi muda Aceh. Dengan demikian, mereka akan tertarik untukmenciptakan cerpen yang mampu dikenal oleh masyarakat luas,” harap Ida.
Panitia juga menggelar workshop sastra grafis yang memadukan garis dan warna dengan cerita pendek bertema lokal. Workshop ini dipandu Idrus bin Harun dari ekosistem Kanot Bu pada Sabtu 19 September 2026 di Sophie’s Sunset Library Geuceu Komplek, Banda Aceh. Peserta diajak membuat ilustrasi dari karya penulis Aceh, sekaligus mengenal sastra lokal.
Selain itu, dibahas dua karya pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Yang pertama adalah novel "Ikhtiar yang Tak Benar-benar" karya Nukila Amal pada Sabtu 19 September 2026 di Sophie’s Sunset Library Lhoknga, Aceh Besar. Selanjutnya ada kumpulan cerpen "Hantu Ulang-alik" karya Ratri Ninditya pada Minggu 27 September 2026, masih di tempat yang sama.
Karya abad ke-16 juga dibahas dari sudut pandang masa kini. Kitab Bustanussalatin karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry dibedah di Taman Sari Bustanussalatin pada Minggu 20 September 2026. Salah satu babnya membahas taman kota, atau taman para raja. Bab itu dikaitkan dengan keberadaan ruang publik di Banda Aceh saat ini. Diskusi dipandu Prof. Dr. Cut Dewi dari Universitas Syiah Kuala.
Adapun Hikayat Pocut Muhammad dibahas sambil tur jalan kaki di Kawasan Peulanggahan dan Gampong Jawa. Kedua kawasan itu menjadi latar cerita tentang perang dan perebutan kekuasaan. Tur dipandu arkeolog Deddy Satria pada Minggu 27 September 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....