Orang Tua Berperan Cegah Pergaulan Bebas Anak
- 14 Sep 2026 00:45 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - RRI Banda Aceh melalui program Dialog Kajian Islami menyoroti pentingnya peran orang tua dalam membentengi anak dari pengaruh pergaulan bebas. Tema tersebut diangkat dalam siaran RRI Pro 1 97.7 FM, Jum'at 21 Agustus 2026, pukul 10.00 - 11.00 WIB.
Dr. Diana, MA, Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Aceh sekaligus Kabag Kerjasama Internasional & Relasi Global Universitas Al-Muslim, menegaskan bahwa keluarga adalah benteng pertama pendidikan anak.
"Rumah itu madrasah pertama dan utama bagi anak. Kalau pondasi di rumah rapuh, maka guncangan dari luar akan mudah meruntuhkan," ujar Diana.
Ia menjelaskan, salah satu penyebab utama remaja terjerumus pergaulan bebas adalah ketidakhadiran orang tua secara emosional.
"Banyak orang tua yang secara fisik ada di rumah, tapi secara perhatian tidak hadir. Anak merasa tidak didengar, tidak dipahami. Akhirnya dia cari validasi di luar rumah," jelasnya.
Diana juga meluruskan pemahaman bahwa memberi materi bukan satu-satunya bentuk tanggung jawab.
"Memberi materi bukan berarti sudah menjalankan tanggung jawab. Tanggung jawab itu ada 3: memberi pendidikan agama dan akhlak, memberi waktu dan komunikasi, serta memberi pengawasan dan teladan," tegasnya.
Menyikapi tantangan era digital, ia mengingatkan orang tua agar melek teknologi namun tetap mendampingi anak.
"Pergaulan bebas sekarang tidak harus ketemu fisik, cukup lewat HP. Maka orang tua wajib melek digital. Bukan untuk memata-matai, tapi untuk mendampingi. Tanamkan filter iman. Katakan ke anak 'Allah selalu melihat, meskipun tidak ada orang yang melihat'," pesannya.
Terkait komunikasi, Diana menyarankan orang tua menggunakan bahasa yang membuat anak nyaman bercerita.
"Jadilah teman, tapi tetap jadi orang tua. Bahasa itu menentukan apakah anak mau terbuka atau menutup diri. Kalau anak pulang telat, jangan tanya 'kamu dari mana, bandel ya?'. Tapi tanya 'nak, tadi kemana? Ibu khawatir'," tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak bisa diserahkan sepenuhnya ke sekolah atau pesantren.
"Sekolah hanya 6-7 jam, lingkungan bisa kita pilih, tapi keluarga 24 jam bersama anak. Keberhasilan pendidikan anak itu 70% di tangan orang tua," katanya.
Untuk orang tua yang sibuk, Diana memberi tips praktis.
"Kualitas waktu lebih penting dari kuantitas waktu. 30 menit ngobrol sambil makan malam tanpa HP itu lebih berharga dari 3 jam satu rumah tapi sibuk sendiri," ucapnya.
Di akhir dialog, ia berpesan agar orang tua tidak putus asa jika anak terlanjur salah pergaulan.
"Jangan putus asa. Hidayah itu milik Allah, tugas kita adalah terus berusaha. Dekati anak dengan kasih sayang, bukan dengan bentakan. Ingat, tidak ada anak yang nakal, yang ada adalah anak yang sedang mencari perhatian," pungkas Dr. Diana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....