RGambut Aceh Terancam, Infrastruktur Restorasi Butuh Perawatan
- 06 Sep 2026 17:32 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Kawasan gambut Aceh menghadapi ancaman kerusakan akibat infrastruktur restorasi yang terbengkalai dan kebakaran berulang.
Pemerintah diminta memperkuat mitigasi, pendanaan, serta pelatihan khusus untuk mencegah bencana di kawasan gambut.
Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Dr. Monalisa, SP, M.Si mengatakan luas gambut Aceh mencapai sekitar 336.000 hingga 338.000 hektare.
Kawasan tersebut tersebar di Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Subulussalam, dan Singkil.
Menurut Monalisa, Aceh memiliki 36 Kawasan Hidrologis Gambut atau KHG dengan tingkat kerusakan ringan, sedang, hingga berat.
Meski demikian, kondisi gambut Aceh masih dapat diselamatkan melalui langkah mitigasi dan perlindungan yang lebih serius.
Ia menyoroti kondisi sekat kanal dan sumur bor yang sebagian mengalami kerusakan akibat minimnya perawatan.
Infrastruktur tersebut berfungsi menjaga tata air dan kelembaban gambut, terutama menghadapi musim kemarau maupun musim hujan.
“Sebagian masih bagus, tetapi sebagian sudah rusak,” kata Monalisa dalam Dialog Green Radio RRI Banda Aceh, Sabtu (5/9/2026).
Ia menjelaskan, sekat kanal pertama kali diperkenalkan di Aceh sekitar 2016 melalui proyek restorasi gambut.
Namun, pemahaman masyarakat terhadap fungsi infrastruktur tersebut masih menjadi persoalan hingga saat ini.
Sebagian warga bahkan membongkar sekat kanal karena khawatir pembangunan tersebut mengganggu kebun dan menyebabkan banjir.
| Baca juga: Sampah di Perkotaan Kini Masuk Fase Kritis |
Monalisa menilai pembangunan infrastruktur harus diikuti pendampingan masyarakat hingga tumbuh kesadaran untuk merawatnya.
“Tidak sekadar sosialisasi, tetapi bagaimana masyarakat bisa menjaga dan merawat apa yang sudah dibangun,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan kebakaran gambut tidak cukup ditangani dengan pendekatan pemadaman biasa menggunakan mobil pemadam.
Api gambut dapat terus menyala di bawah permukaan tanah meski api di bagian atas terlihat padam.
Karena itu, petugas membutuhkan pengetahuan khusus mengenai karakteristik gambut dan teknik pemadaman kebakaran bawah permukaan.
Monalisa menyebut pelatihan bagi petugas dan Masyarakat Peduli Api masih perlu diperkuat di berbagai kawasan gambut Aceh.
Selain persoalan kebakaran, rendahnya pemahaman masyarakat terhadap gambut juga menjadi tantangan dalam upaya perlindungan ekosistem.
Berdasarkan risetnya di Singkil, sekitar 80 persen responden belum memahami pemanfaatan dan karakteristik lahan gambut.
Kondisi tersebut dapat memunculkan sikap pasrah masyarakat terhadap banjir dan bencana yang terus berulang.
Monalisa mendorong pemerintah menyediakan pendanaan khusus untuk mitigasi dan pencegahan bencana di kampung-kampung kawasan gambut.
Menurutnya, dana tersebut dapat mendukung perawatan infrastruktur, pelatihan masyarakat, dan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran serta banjir.
“Pendanaan untuk pencegahan mitigasi harus khusus dialokasikan di kampung-kampung lahan gambut,” kata Monalisa.
Ia berharap perhatian pemerintah terhadap perlindungan gambut semakin diperkuat agar Aceh terhindar dari kerusakan seperti daerah lain.
Menjaga gambut, menurutnya, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tugas bersama seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....