Sampah di Perkotaan Kini Masuk Fase Kritis

  • 09 Mei 2026 15:54 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Nurulyana Daba, S.Pd, Kepala Biro Organisasi Yayasan Aceh Green Conservation, menegaskan bahwa masalah sampah di perkotaan kini masuk fase kritis. Volume sampah terus naik seiring pertambahan penduduk dan gaya hidup konsumtif, sementara TPA semakin penuh, Hal tersebut disampaikan saat diwawancara RRI, Sabtu 9 Mei 2026

Ia mengatakan, berbagai Upaya yang sedang didorong saat ini seperti Bank Sampah & Ekonomi Sirkular: Nurulyana menyebut bank sampah di tingkat RT/RW jadi pintu masuk paling realistis. Warga memilah dari rumah, sampah bernilai ekonomi dijual, residu baru ke TPA. Di beberapa kelurahan Banda Aceh, model ini memangkas 20-30% sampah ke TPA.

"Edukasi Berbasis Komunitas: Yayasan Aceh Green Conservation aktif masuk sekolah dan majelis taklim. Fokusnya mengubah perilaku, bukan sekadar bagi-bagi tempat sampah. “Mindset yang dibenahi dulu, infrastruktur menyusul,” kata Nurulyana.

Kolaborasi Pentahelix: Pemerintah kota, swasta, akademisi, media, dan komunitas duduk bareng. Contohnya kerjasama dengan pengepul dan UMKM daur ulang untuk menyerap plastik PET dan minyak jelantah. Teknologi Tepat Guna: Mulai diuji coba mesin pencacah organik skala komunal dan maggot BSF untuk sampah dapur. Tujuannya memutus rantai sampah organik yang 60% mendominasi timbunan harian. Regulasi dan Insentif: Penerapan retribusi berbasis volume dan insentif bagi kawasan yang minim sampah. Beberapa kota sudah uji coba kantong berbayar untuk mendorong pengurangan.

"Perilaku & Konsistensi: Menurut Nurulyana, tantangan terbesar bukan teknologi, tapi kebiasaan. “Banyak yang semangat di awal sosialisasi, seminggu kemudian kembali campur semua,” ujarnya.

Anggaran & Armada Terbatas: Truk pengangkut dan petugas kebersihan belum sebanding dengan titik timbulan sampah. Akibatnya ritme pengangkutan telat, warga protes, lalu buang sembarangan. TPA Kelebihan Kapasitas: Sebagian besar TPA di kota masih sistem open dumping. Lahan baru sulit, penolakan warga tinggi, dan sanitary landfill butuh biaya besar.Sampah Plastik Sekali Pakai: Masih masif di pasar tradisional dan warung. Larangan kantong plastik belum merata, pengawasan lemah. Data Timbulan Belum Akurat: Tanpa data jenis dan volume sampah per kawasan, intervensi sering salah sasaran. Hasilnya program jalan tapi dampak kecil.

Nurulyana menekankan, solusi sampah perkotaan tidak bisa top-down saja. “Kuncinya partisipasi warga + kebijakan yang tegas + industri daur ulang yang jalan. Kalau satu pincang, TPA kita yang jebol.”

Yayasan Aceh Green Conservation kini membuka pendampingan bagi gampong dan kelurahan yang mau membangun sistem kelola sampah mandiri, mulai dari pemetaan, pelatihan kader, sampai koneksi ke offtaker.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....