Kenali Tanda Bahaya Digital pada Anak
- 24 Jul 2026 17:03 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Perubahan sikap anak secara tiba-tiba, seperti tertutup atau panik saat ponsel berbunyi, dianggap sekadar bagian dari fase pubertas. Padahal, perubahan perilaku semacam itu bisa menjadi sinyal adanya masalah serius di dunia digital yang tengah dihadapi anak. Padahal, anak bisa saja mengalami perundungan siber (cyberbullying) hingga kontak dengan orang asing yang mencurigakan.
Dikutip dari internetsehat.id, sejumlah tanda perlu diwaspadai orang tua maupun keluarga terdekat. Salah satunya adalah anak yang tiba-tiba tampak panik atau takut ketika menerima notifikasi di ponsel. Tanda lainnya adalah menjadi sangat tertutup soal aktivitas daring yang dilakukannya, atau terlihat stres berat setelah menggunakan media sosial.
Banyak anak di Indonesia memilih diam dan tidak melapor kepada orang tua karena khawatir ponselnya akan disita atau responsnya dianggap berlebihan. Padahal, ancaman digital seperti grooming atau paparan konten kekerasan dapat berdampak nyata terhadap kesehatan mental anak.
Salah satu penyebab anak sulit terbuka adalah respons orang dewasa di sekitarnya yang cenderung menghakimi. Kalimat seperti larangan bermain ponsel yang disampaikan secara reaktif justru berpotensi membuat anak semakin menutup diri. Anak memilih memendam persoalannya sendiri hingga kondisinya memburuk karena rasa malu dan khawatir menimbulkan masalah baru.
Untuk mengatasi hal tersebut, orang tua maupun keluarga tidak perlu menempatkan diri sebagai pengawas yang terus memantau ponsel anak. Pendekatan yang lebih efektif adalah membangun kepercayaan dan komunikasi yang sehat yang lekat dengan kesehariannya. Anda bisa mengajak anak berbincang santai mengenai kreator konten favorit atau topik yang viral di lingkar pertemanannya.
Orang dewasa di sekitar anak juga diharapkan dapat menjadi teladan dalam bersikap bijak di ruang digital, termasuk tidak ikut menyebarkan hoax. Ketika anak akhirnya bersedia bercerita, dengarkan terlebih dahulu tanpa terburu-buru menyalahkan. Dengan begitu, anda bisa membantu anak keluar dari situasi yang dihadapinya.
Keamanan berinternet merupakan tanggung jawab bersama seluruh anggota keluarga, tidak terbatas pada orang tua. Kakak, paman, tante, atau kerabat lain yang lebih dewasa juga dapat berperan sebagai tempat bercerita yang aman bagi anak. Selain itu, anak juga perlu dibekali pengetahuan praktis, seperti cara memblokir akun toxic dan menyimpan tangkapan layar (screenshot) sebagai bukti.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....