Batasi Penggunaan Media Sosial demi Menjaga Kesehatan Mental

  • 12 Jul 2026 07:30 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh: Tingginya intensitas penggunaan media sosial di kalangan remaja dinilai perlu diimbangi dengan kemampuan mengelola waktu dan mengendalikan diri. Tanpa batasan yang jelas, media sosial dikhawatirkan dapat memengaruhi kesehatan mental, menurunkan produktivitas, hingga mengubah karakter generasi muda.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) 2026–2028, Amsal, S.E., M.E., dalam program dialog "Cerita Kamu" Pro 2 RRI Banda Aceh bertema "Remaja dan Media Sosial: Antara Prestasi, Tekanan Mental, dan Perubahan Karakter", Jumat 10Juli 2026.

Menurutnya, media sosial merupakan bagian dari kehidupan modern yang tidak dapat dihindari, tetapi penggunaannya harus diarahkan pada hal-hal yang memberikan manfaat bagi pengembangan diri.

Amsal mengatakan penggunaan media sosial yang berlebihan dapat membuat remaja kehilangan keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata. Ia menilai tidak sedikit anak muda yang menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk berselancar di media sosial tanpa memiliki tujuan yang jelas.

"Hari ini para remaja mungkin tujuh sampai delapan jam itu digunakan penuh untuk media sosial saja," ujar Amsal. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketergantungan sehingga seseorang lebih nyaman berada di dunia maya dibandingkan membangun interaksi sosial secara langsung.

Ia menambahkan, penggunaan media sosial yang tidak terkendali juga dapat memicu munculnya rasa cemas, takut tertinggal, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang ditampilkan di berbagai platform digital. Dampak lainnya adalah meningkatnya risiko cyberbullying yang dapat memengaruhi kondisi psikologis remaja apabila tidak disikapi dengan bijak. "Cyberbullying itu lebih berbahaya karena mental seseorang bisa ikut terdampak," kata Amsal.

Sementara itu, Ketua II Bidang Organisasi PB PII, Yusuf Wicaksono, S.Sos., mengajak generasi muda untuk mulai membangun lingkungan pergaulan yang positif sebagai salah satu cara mengurangi dampak negatif media sosial. Menurutnya, teman sebaya memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebiasaan seseorang, termasuk dalam memanfaatkan teknologi digital.

"Pertama mungkin perbaiki circle. Karena dari circle inilah penentu bahwa kita mau menjadi seperti apa," ujar Yusuf. Ia juga mengimbau remaja memanfaatkan media sosial untuk mencari informasi mengenai pendidikan, pelatihan, maupun kompetisi sehingga waktu yang dihabiskan di dunia digital dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan diri.

Menutup dialog, Amsal mengingatkan bahwa media sosial seharusnya menjadi sarana untuk belajar, berkarya, dan menginspirasi, bukan sekadar tempat mencari popularitas. Ia berharap generasi muda mampu mengatur waktu penggunaan media sosial secara seimbang agar tetap produktif, menjaga kesehatan mental, serta membangun karakter yang kuat di tengah derasnya arus informasi digital.

"Penggunaan media sosial tidak hanya fokus mencari viral, tetapi bagaimana kita bisa menciptakan manfaat dan menginspirasi banyak orang," tutupnya.




google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....