PII Ingatkan Remaja Bijak Bermedia Sosial untuk Cegah Tekanan Mental

  • 12 Jul 2026 07:06 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh: Penggunaan media sosial di kalangan remaja dinilai membawa dua sisi yang tidak dapat dipisahkan, yakni membuka peluang meraih prestasi sekaligus menghadirkan risiko terhadap kesehatan mental. Karena itu, generasi muda diharapkan mampu menggunakan media sosial secara bijak agar tidak terjebak pada dampak negatif seperti perundungan siber, rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO), hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PB Pelajar Islam Indonesia (PII) 2026–2028, Amsal, S.E., M.E., dalam program dialog "Cerita Kamu" Pro 2 RRI Banda Aceh bertema "Remaja dan Media Sosial: Antara Prestasi, Tekanan Mental, dan Perubahan Karakter". Menurutnya, tingginya penggunaan media sosial di Indonesia harus diimbangi dengan kemampuan literasi digital agar remaja mampu memanfaatkan teknologi secara sehat.

Amsal menjelaskan media sosial pada dasarnya memberikan banyak manfaat apabila digunakan sesuai kebutuhan. Namun, ia mengingatkan bahwa tanpa tujuan yang jelas, media sosial justru dapat memicu berbagai persoalan psikologis, mulai dari kecanduan, cyberbullying, hingga munculnya kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan orang lain.

"Yang menariknya dari media sosial ternyata angka negatifnya juga tinggi. Muncul cyberbullying, kemudian mental health menurun karena komentar-komentar negatif. Kita juga sering menjadi pembanding dengan orang lain sehingga merasa diri tidak berguna," ujar Amsal saat diwawancarai RRI pada , Jumat 10 Juli 2026.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri dan tidak lagi mampu melihat potensi yang dimilikinya dan fenomena tersebut semakin sering terjadi karena banyak remaja menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di media sosial tanpa memiliki tujuan yang jelas. Menurutnya, media sosial seharusnya menjadi alat untuk mengembangkan diri, bukan justru membuat seseorang kehilangan arah dan merasa kesepian di kehidupan nyata.

Sementara itu, Ketua II Bidang Organisasi PB PII, Yusuf Wicaksono, S.Sos., mengatakan salah satu langkah yang dapat dilakukan remaja untuk menjaga kesehatan mental adalah memilih lingkungan pergaulan atau circle yang positif. Ia menilai teman sebaya memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang menggunakan media sosial maupun menyikapi berbagai komentar yang diterima di dunia digital.

"Pertama mungkin perbaiki circle. Karena dari circle inilah penentu kita mau menjadi seperti apa. Perbanyak jaringan dan jadikan media sosial sebagai lahan pembelajaran agar prestasi ikut tumbuh," kata Yusuf. Ia juga mengajak anak muda memanfaatkan media sosial untuk mencari informasi mengenai lomba, pelatihan, maupun kesempatan meningkatkan kemampuan sehingga waktu yang dihabiskan di dunia digital menjadi lebih produktif.

Menutup dialog, Amsal mengingatkan bahwa media sosial tidak boleh hanya dijadikan tempat mencari perhatian atau popularitas semata. "Penggunaan media sosial tidak hanya fokus mencari viral, tetapi bagaimana kita bisa menciptakan manfaat dan menginspirasi banyak orang," ujarnya. Ia berharap generasi muda mampu membangun karakter yang kuat, percaya pada kemampuan diri sendiri, serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana belajar, berkarya, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....