Orang Tua Diingatkan Bahaya Penggunaan Gadget pada Anak, Ini Risikonya

  • 30 Jun 2026 16:22 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Penggunaan gadget dan media sosial pada anak memerlukan pengawasan yang lebih ketat dari orang tua. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, anak-anak dinilai menjadi kelompok yang paling rentan terpapar dampak negatif ruang siber apabila menggunakan gawai tanpa pendampingan.

Sekretaris Rumah Lentera Habibi, Ahmad Safri, dalam perbincangan bersama Pro 2 RRI Banda Aceh, Minggu 28 Juni 2026, mengatakan gadget memiliki dua sisi layaknya mata uang. Di satu sisi, teknologi digital memberikan banyak manfaat, namun di sisi lain juga menyimpan berbagai risiko bagi tumbuh kembang anak.

Menurut Ahmad Safri, kehadiran gadget memudahkan masyarakat memperoleh informasi, mengakses materi pembelajaran, hingga membuka peluang ekonomi melalui media sosial. Bahkan, banyak orang yang mampu membangun karier dan memperoleh penghasilan dari platform digital.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan gadget tanpa kontrol juga dapat memengaruhi kondisi emosional dan kehidupan sosial penggunanya. Anak-anak yang terlalu lama menggunakan gawai cenderung lebih sibuk dengan dunia digital dibandingkan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

"Pengaruh gadget sangat besar. Ada sisi positif yang bisa dimanfaatkan untuk belajar dan berkarya, tetapi ada juga sisi negatif yang harus diwaspadai, terutama bagi anak-anak," ujarnya.

Ahmad Safri menjelaskan, salah satu risiko terbesar adalah paparan konten yang tidak sesuai dengan usia anak, seperti kekerasan, pornografi, maupun informasi lain yang dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku mereka. Menurutnya, kemudahan mengakses internet membuat berbagai jenis konten dapat muncul hanya melalui pencarian sederhana apabila tidak disertai pengawasan orang tua.

Selain itu, anak juga berisiko menjadi korban cyberbullying atau perundungan di dunia maya. Komentar negatif yang diterima melalui media sosial dapat berdampak terhadap kesehatan mental anak, terutama karena mereka belum memiliki kemampuan yang matang dalam mengelola tekanan psikologis.

Tidak hanya itu, Ahmad Safri juga menyoroti meningkatnya ancaman penipuan daring yang menyasar anak-anak. Minimnya pemahaman mengenai keamanan digital membuat mereka lebih mudah menjadi korban pelaku kejahatan siber.

Menurutnya, interaksi di media sosial maupun permainan daring juga perlu mendapat perhatian serius. Anak-anak dapat dengan mudah berkenalan dengan orang yang tidak dikenal tanpa mengetahui identitas maupun tujuan sebenarnya. Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya berbagai bentuk kejahatan digital apabila tidak diawasi.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga data pribadi di ruang digital. Banyak anak yang belum memahami informasi apa saja yang boleh dan tidak boleh dibagikan di internet. Akibatnya, foto, video, maupun data pribadi dapat tersebar luas dan berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Selain persoalan keamanan data, Ahmad Safri menilai media sosial juga dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. Tidak sedikit anak yang mulai mengukur nilai dirinya berdasarkan jumlah tanda suka, komentar, maupun pengikut di media sosial, padahal hal tersebut tidak mencerminkan kualitas pribadi seseorang.

Karena itu, Ahmad Safri mengajak para orang tua untuk berperan aktif mendampingi anak saat menggunakan gadget. Pendampingan tidak hanya sebatas membatasi durasi penggunaan, tetapi juga membangun komunikasi, memberikan edukasi mengenai etika digital, serta mengarahkan anak agar memanfaatkan teknologi secara sehat, aman, dan produktif.

"Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan di dunia digital. Karena itu, peran orang tua menjadi kunci agar mereka dapat memanfaatkan teknologi secara bijak sekaligus terhindar dari berbagai risiko yang ada di media sosial," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....